Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Jenis Informasi Yang Anda Butuhkan
 
Padi
katam
smslink
smartd
sciencedirect
krpl
Alsin
e-jurnal
springer
ayam KUB

Download

El Nino : Langkah Antisipasi dan Managemen Dampak PDF Cetak E-mail
Rabu, 16 Desember 2009 07:24

El Nino: Langkah Antisipasi dan Managemen Dampak

Haris Syahbuddin

Agroklimatologist, BPTP Maluku Utara

Dalam satu minggu terakhir ini, debutan lama fenomena iklim El-Nino atau sering disebut juga ENSO (El-Nino Southern Oscillation) sebagai penyebab kekeringan hangat dibicarakan dan mengkhawatirkan banyak orang. Tidak kurang Bapak Presiden SBY harus menyampaikan langsung secara melalui teleconference pada tanggal 30 Juli baru lalu kepada seluruh Gubernur, Bupati, Walikota dan unsur Muspida lainnya tentang pentingnya kewaspadaan dan langkah langkah yang harus diambil oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Kota serta kabupaten menghadapi fenomena global ini. Mengapa disebut debutan lama?. Karena fenomena ini bukalah barang baru, melainkan sudah berulang lebh dari puluhan kali, sejak El Nino teridentifikasi secara tegas oleh Bjerknes tahun 1969. Bahkan fenomena El Nino sudah akan terjadi sebanyak 30 kali dari 1900 hingga 2009.

Gejala alam yang bermuara di bagian Timur dan Tengah samudra Pacific tersebut, makin tahun semakin meningkat siklusnya, dari 5 – 10 tahunan sekali pada periode 1973-1980 an menjadi 2-3 tahunan sekali pada dasawarsa terakhir. Makin positif anomali suhu permukaan laut (Sea Surface Temperatur: SST) di Pasific, akan semakin besar dampaknya terhadap orientasi budidaya dan produksi pertanian di Indonesia. ENSO yang terkadang diikuti oleh anomali SST positip di samudra India (disebut dipole mode), akan semakin menguras air permukaan (surface water) di banyak daerah aliran sungai (DAS) di seluruh Indonesia, seperti yang terjadi pada tahun 1972, 1983, dan 1997. Keduanya menyebabkan kekeringan tidak saja lahan sawah tadah hujan, tetapi juga lahan sawah irigasi, karena massa uap air sebagai cikal curah hujan jika terkondensasi, yang ada di atmosfer wilayah Indonesia tersedot ke arah kedua samudra tersebut. Atau dengan kata lain zone konveksi uap air berpindah dari di atas Indonesia ke samudra Pasific dan India.

Intensitas El Nino tahun 2009 sendiri menurut kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) berstatus ringan pada Agustus, moderat pada September-Oktober, dan kemudian bersamaan dengan pergerakan massa uap air dari belahan bumi bagian Utara ke belahan bumi bagian Selatan (monsoon), atau dengan kata lain bersamaan dengan masuknya musim hujan di Indonesia (onset), anomali positip SST di samudra Pasific akan makin rendah diikuti dengan intensitas El Nino yang semakin melemah pada Januari-Februari. Meskipun berstatus lemah sampai moderat, El Nino tahun 2009 ini diperkirakan menyebabkan 114 zona (52%) dari 220 zone peramalan iklim (ZPI) yang ada di Indonesia akan mengalami keterlambatan awal tanam sekitar 10-30 hari.

Lalu bagaimana dengan Provinsi Maluku Utara? Karena Maluku Utara terletak di sekitar equatorial dengan sifat curah hujan dua puncak (bimodal), April/Mei dan September/Oktober sehingga sebagian besar wilayahnya tergolong lembab-basah. Secara alamiah fenomena El Nino diperkirakan tidak akan menyebabkan Maluku Utara mengalami kekeringan klimatologis, hidrologis maupun agronomis khususnya pertanian tanaman pangan (padi, palawija dan ubi ubian). Hal ini dibuktikan dari pemantauan lapang yang dilakukan oleh beberapa rekan penyuluh di Halmahera Selatan, Halmahera Barat, Halmahera Utara, Halmahera Timur dan Kepulauan Sula, sampai dengan minggu terakhir umunya masih terdapat sedikit hujan namun masih diambang normal. Sedangkan Kota Tidore Kepulauan dan Halmahera Tengah sejak seminggu terakhir sudah mulai tidak ada hujan atau hujan dengan intensitas kecil namun masih diambang normal. Ini berarti di atas Maluku Utara masih terjadi konvergensi uap air (konsultasi pribadi dengan Kepala Pusat Peramalam dan Informasi BMKG).

Akan tetapi, karena (1) secara geografis Maluku Utara terletak lebih dekat dengan samudra Pasific dan berada pada garis lurus equator, sehingga sensitivitas fluktuasi curah hujannya lebih tinggi, serta (2) sebagian besar wilayah DAS keberlimpahan air curah hujan namun memiliki jarak yang pendek dengan badan sungai dan atau garis pantai, sehingga air hujan tidak dapat tertahan dalam waktu yang lebih lama, maka penurunan volume disertai keterlambatan musim hujan (Oktober/November) sedikit saja dari keadaan normal dapat menyebabkan wilayah DAS cepat mengalami kekeringan. Oleh karena itu kewaspadaan terhadap keberlanjutan El Nino tetap harus dibangun dan didampingi dengan langkah operasional antisipatif dan managemen dampak yang mungkin ditimbulkannya.

Langkah operasional antisipatif apa yang harus dilakukan dalam menghadapi El Nino bila terus menguat?. Langkah operasional antisipatif harus lebih difokuskan untuk menyiapkan upaya mengurangi dampak atau bahkan meniadakan dampak yang akan timbul akibat cekaman El Nino. Langkah tersebut secara berjenjang antara lain: (1) membentuk laisson officer (LO) yang dilengkapi SMS center dan berfungsi untuk menumbuhkan keperdulian dan kehati-hatian masyarakat luas (public awarness) dalam mengelola dan memanfaatkan sumber air, mengolah lahan dan lingkungan, memilih varietas dan bercocok tanam dalam situasi El Nino, mencatat serta melaporkan kejadian kekeringan dalam dimensi ruang dan waktu, dan memberi arahan , solusi serta pendampingan terkait pengelolaan air, tanah dan tanaman; (2) menyesuaikan kalender dan pola tanam terkait kondisi iklim lokal (basah, normal dan kering); (3) menanam benih unggul tanaman pangan tahan kekeringan dan berumur genjah, seperti Situ Bagendit, Situ Patenggang, Impari 10, Silugonggo, Limboto,Towuti, IR 66 dan Dodokan untuk padi, Srikandi Kuning, Lamuru, Sukmaraga dan Anoman untuk jagung, Argomulyo dan Burangrang untuk Kedele, Singa dan Jerapah untuk kacang tanah, serta Kutilang untuk kacang hijau; (4) menaikan muka air menggunakan teknologi dam parit untuk mengari lahan budidaya; (5) pompanisasi pada lokasi terpilih, atau areal kaya sumber air; (6) menerapkan teknologi irigasi intermiten, bergilir, macak-macak, dan irigasi tetes; (7) meningkatkan efisiensi pemanfaatan air pada daerah daerah rawan kekeringan, termasuk didalamnya adalah memperbaiki saluran irigasi; (8) menyiapkan saran dan prasarana untuk mentransfer air antar wilayah (interbasin transfer); (9) mengidentifikasi sumber dan memobilisasi masyarakat untuk menyiapkan lumbung pangan dan pangan lokal pengganti beras, seperti updating inovasi teknologi pada sagu kasbi aneka rasa untuk meningkatkan nilai gizinya; (10) mendorong petani yang memiliki aksesibilitas besar terhadap air pada daerah-daerah kaya sumber air melakukan budidaya tanaman bernilai ekonomi tinggi di luar musim untuk meningkatkan pendapatan; dan (11) memanfaatkan RRI untuk menyiarkan informasi rutin tentang program antisipasi dan langkah taktis yang telah disusun di atas secara rutin pada jadwal yang tetap. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku Utara, sebagai institusi vertikal Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian di Maluku Utara telah melakukan pengkajian dan siap melakukan pengawalan terhadap penerapan teknologi tersebut di atas, mendukung program antisipasi kekeringan Pemerintah Provinsi.

Managemen dampak merupakan upaya yang dilakukan apabila fenomena El Nino terus menguat sehingga dapat menimbulkan bencana iklim. Mengapa ini harus dilakukan? Iklim tropis bersifat sangat dinamis dan eratik, namun iklim juga memiliki sifat kekukuhan yang tidak berubah dalam waktu yang cepat. Managemen dampak bersifat eksklusif dan hanya dapat dilakukan bila ada intervensi struktural untuk meringankan beban masyarakat yang terkena bencana iklim. Artinya langkah ini menjadi domain pemerintah provinsi, kota dan kabupaten sebagai eksekutor di wilayah masing-masing. Managemen dampak tersebut antara lain: (1) membentuk tim pokja penanggulangan bencana iklim; (2) mengalokasikan dana tanggap darurat untuk menanggulangi bencana iklim, yang juga dapat dikembangkan dalam bentuk asuransi resiko pertanian; (3) menginstruksikan untuk melakukan upaya ekstraktif memanfaatkan kekayaan pangan lokal, seperti sagu secara arif; (4) meningkatkan transfer air antar wilayah menggunakan saran dan prasarana yang telah disiapkan, termasuk transfer air baku untuk konsumsi; (5) melakukan pelarangan terhadap kegiatan budidaya pertanian tanaman semusim (pangan dan sayuran) pada daerah-daerah terkena dan rawan kekeringan; (6) menetapkan langkah cepat pembagian air secara proporsional (water sharing) untuk kebutuhan rumah tangga, industri, parawisata dan pertanian dalam satu kawasan DAS; dan (7) menyiapkan stok beras bersubsidi (rasdi) pada wilayah wilayah terkena kekeringan dan bencana iklim, yang dihitung berdasarkan kecukupan kalori per kapita. Ke 2 kelompok strategi tersebut di atas harus dilengkapi dengan instruksi Gubernur, Bupati dan Walikota agar memiliki payung dan kekuatan hukum tetap serta memberi kepastian dan efektif dalam implementasinya.

Pada akhirnya perlu disampaikan bahwa, El Nino tidak harus selalu diartikan membawa bencana, karena pada wilayah wilayah yang memiliki rawa lebak, lahan pasang surut, lahan tergenang (polder) dan sejenisnya, El Nino justru memberi kesempatan untuk melakukan perluasan areal tanam. Selain itu terdapat tanaman perkebunan dan buah-buahan pada musim kering yang tegas akan memberikan hasil yang tinggi, seperti tebu, kelapa, dan mangga. Lebih dari itu, perlu disadari bahwa berdasarkan data 100 tahun terakhir, sekitar 88% La Nina (curah hujan tinggi) beriringan dengan El Nino, dan kejadian dimana La Nina mendahului El Nino sekitar 63%. El Nino adalah satu keniscayaan dinamika iklim global yang pasti akan datang dengan siklus dan pola tertentu. Selain itu, di masa yang akan datang dengan makin meningkatnya jumlah penduduk, alat transportasi, deforestasi, dan zona industri, suhu udara diperkirakan akan meningkat 1.0-4.5oC dan semakin memicu anomali atau perubahan iklim. Tidak ada cara lain, tindakan seperti “pemadam kebakaran” harus sudah diganti dengan tindakan yang didasarkan pada program antisipasi jangka menengah dan panjang, seperti memulainya dengan menyusun blue print atau road map rencana adaptasi spesifik lokasi untuk 5 hingga 20 tahun yang akan datang agar tercipta ketahanan terhadap perubahan iklim.

 

LAST_UPDATED2
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com