JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

 

 

Jakarta - Untuk mempercepat realisasi serapan gabah petani, Menteri Pertanian menggelar rapat koordinasi dengan Dirut Bulog yang baru, Komjen Purn Budi Waseso di kantor Perum Bulog Jakarta (9/5). Rapat kordinasi ini memaparkan rencana dan evaluasi “Sergap” atau Serap Gabah Petani dan Pengadaan 1000 Unit Dryer, di 8 Sentra Produksi Gabah Nasional.

Dalam paparannya, Menteri Pertanian menyatakan Dalam paparannya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya komitmen dan sinergitas antar lembaga terutama dilapangan. Kementerian Pertanian, sebagai regulator dan bertanggung jawab pada produksi dan Bulog sebagai operator, harus mengambil peran dan tanggung jawab bersama. Lebih lanjut Amran Sulaiman, mengatakan pentingnya pengisian cadangan pangan pemerintah melalui pengadaan gabah/beras. "Cadangan pangan pemerintah ini sangat penting untuk menanggulangi kekurangan pangan, gejolak harga, dan bencana," kata Amran Sulaiman.

Pada kesempatan yang sama, Dirut Bulog, Budi Waseso, menegaskan pihaknya akan meningkatkan perannya sebagai stabilisator harga pangan strategis, yaitu beras, gula, daging (sapi, ayam), telur, bawang (merah, putih), cabai, minyak dan lainnya. Dalam pelaksanaanya membutuhkan sinergisme yg telah dijalin dengan TNI dan Kementan agar semua target yang menjadi tanggung jawab BULOG dapat direalisasikan

Berdasarkan data Bulog, realisasi pengadaan gabah/beras oleh Perum Bulog sebesar 667.852 ton atau 30% dari total target sampai dengan Juni 2018 sebesar 2,2 juta ton.

Target penyerapan ini akan terus diupayakan mengingat potensi panen masih cukup besar, terutama di 10 provinsi sentra, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat.

 

Kepala Badan Ketahanan Pangan, Agung Hendriadi selaku Ketua I pelaksana sergab mengatakan, melalui rakor ini diharapkan dapat secara bersama–sama membangun komunikasi dan koordinasi yang lebih intensif dengan pemangku kepentingan, agar target penyerapan gabah/beras dapat tercapai.

Untuk itu menurut Agung, revitalisasi sistem serap gabah perlu dilakukan melalui efisiensi rantai pasok dengan cara menekan middlemen yang meraup keuntungan selama ini.

"Efisiensi rantai pasok dari petani ke penebas langsung ke unit penggilingan (UPGB) ini sangat penting, agar harga dapat terjaga dan terjangkau daya beli masyarakat," tegas Agung.

Dalam rakor ini juga dilakukan penandatanganan kesepakatan kerjasama antara Gapoktan dengan Kepala Divre Perum Bulog. Secara simbolis, penandatanganan dilakukan oleh empat perwakilan gapoktan dari empat provinsi, yaitu Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Menurut Agung, dengan adanya kesepakatan ini diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan bantuan mesin pengering (dryer) bekerjasama dengan Perum Bulog untuk mendukung percepatan serap gabah dalam rangka pemenuhan cadangan beras pemerintah.

Hadir dalam rakor adalah Dirut Perum Bulog, Aster Kasad, Direktur Pengadaan dan Direktur Pelayanan Publik Perum.Bulog, penanggung jawab Upsus/Sergap Nasional, Kepala BPTP seluruh Indonesia termasuk Kepala BPTP Malut, serta Kadivre Bulog seluruh Indonesia.