JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

 

 

Tobelo - Sebagai upaya mewujudkan swasembada daging sapi maka Kementerian Pertanian telah menggalakkan penerapan teknologi inseminasi (kawin) buatan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas sekaligus meningkatkan populasi sapi potong. Teknologi inseminasi buatan mampu meningkatkan mutu genetik ternak melalui penyebaran gen-gen unggul pada sapi hasil IB dengan cara yang lebih efisien dan mampu meningkatkan efisiensi kinerja reproduksi ternak sapi dalam menghasilkan keturunan, khususnya pada sapi betina. Dengan teknologi ini maka upaya meningkatkan jumlah populasi dan produksi sapi akan lebih cepat dibandingkan dengan kawin secara alami.

Teknologi IB telah menggantikan cara perkawinan alami sapi yang selama ini dilakukan secara turun-temurun sebagai suatu sistem sosial dan budaya masyarakat yang telah lama berlangsung. Dilain pihak, keberhasilan penerapan teknologi IB sangat dipengaruhi oleh pola manajemen pemberian pakan, pengendalian kesehatan dan manajemen perkawinan sehingga sapi hasil IB mampu berproduksi optimal sesuai dengan potensi genetik ternak. Selain itu, keberhasilan penerapan teknologi IB juga dipengaruhi oleh tingkat dukungan infrastruktur dasar pelayanan IB seperti peralatan produksi dan distribusi semen, kelembagaan IB, petugas IB, dan peternak. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika pola pemeliharaan sapi secara intensif dengan distribusi ternak dan peternak yang cenderung terkonsentrasi pada suatu wilayah tertentu menjadi tumpuan keberhasilan penerapan teknologi IB di Indonesia.

Program SIWAB merupakan program strategis Kementerian Pertanian dengan menggalakkan introduksi dan pelaksanaan IB untuk percepatan dan peningkatan populasi sapi dan kerbau bunting. Program  SIWAB mulai dilaksanakan di Kabupaten Halmahera Utara sejak Bulan November 2016. Jumlah populasi sapi betina dewasa umur di kabupaten ini pada tahun 2017 sebanyak 5.954 ekor. Dari jumlah sapi betina dewasa tersebut, jumlah  sapi yang telah memperoleh pelayanan teknologi IB pada tahun 2017 sebanyak 2.646 ekor sedangkan per bulan tahun 2018 telah mencapai 300 ekor. Dengan demikian, sebanyak 49,48% sapi betina dewasa merupakan akseptor teknologi IB di kabupaten Halmahera Utara.

Sebagai bentuk apresiasi keberhasilan pelaksanaan program Upsus SIWAB, khususnya di kabupaten Halmahera Utara, maka telah dilakukan perlombaan kontes dan panen pedet sapi hasil IB pada tanggal 30 Mei 2018 di Tobelo-Halmahera Utara. Dalam hal ini, perlombaan kontes dan panen pedet sapi hasil IB di kabupaten Halmahera Utara  telah memberikan bukti empiris bahwa pola pemeliharaan ekstensif dengan distribusi ternak dan peternak yang relatif tersebar mampu memberikan harapan baru keberhasilan penerapan teknologi IB.

Dalam kontes ternak tersebut, telah diperlombakan sapi potong hasil teknologi IB dengan 4 kategori yang berbeda, yaitu 1). Calon pejantan sapi PO; 2). Calon pejantan sapi Bali; 3). Calon pejantan sapi persilangan; dan 4). Sapi kelas ekstrim bebas. Lomba kontes ternak sapi menghasilkan Juara 1 calon pejantan umur 1,5 – 2 tahun, masing-masing untuk kategori sapi PO dengan Bobot Badan (BB) 373 kg; kategori sapi Bali dengan BB 343 kg dan kategori sapi persilangan dengan BB 554 kg. Pada kategori sapi kelas ekstrim bebas, juara 1 diperoleh sapi jenis persilangan PO dan Simmental dengan BB mencapai 615 kg pada umur 4 tahun. Dengan memperhatikan umur sapi peserta kontes ternak, maka terdapat potensi hasil sesuai standar penerapan teknologi IB pada umur sapi siap jual, yaitu sebesar 600-700 kg/ekor. Dalam hal ini, komitmen seluruh pihak dari peternak hingga petugas IB dan supporting system menjadi faktor keberhasilan penerapan teknologi IB di wilayah Halmahera Utara.