JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

 

Sofifi - Kajian pemodelan struktural adopsi inovasi IB telah dilakukan oleh BPTP-Balitbangtan Maluku Utara untuk mengetahui faktor-faktor penentu keberhasilan penerapan teknologi IB di Maluku Utara. Kajian dilakukan dengan menggunakan 31 variabel yang dapat dikelompokkan menjadi 5 indikator variabel, yaitu karakteristik internal peternak, karakteristik usaha peternak, karakteristik eksternal peternak, persepsi peternak terhadap IB, dan tingkat adopsi IB. Lokasi kajian dilaksanakan pada salah satu sentra penerapan teknolpgi IB di kabupaten Halmahera Utara (desa Sukamaju) dan wilayah transmigrasi di kabupaten Halmahera Timur (desa Rawamangun) sebagai lokasi kontrol. Hasil pemodelan struktural dari seluruh variabel ditunjukkan pada gambar dibawah ini:

 

Chi-square=1759.37, df=562, P-value= 0.000, RMSEA= 0,094

 Gambar 1. Estimasi seluruh variabel dalam model struktural adopsi inovasi IB

 

Berdasarkan hasil pemodelan struktural dari seluruh variabel analisis tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1.  Indikator variabel karakteristik eksternal peternak (KEP=0,21) memiliki kontribusi terbesar dibanding indikator variabel karakteristik usaha peternak sapi potong (KUP=0,19) dan persepsi peternak (0,10) terhadap tingkat penerapan IB. Sebaliknya, kontribusi indikator variabel karakteristik internal peternak (KIP) terhadap tingkat penerapan IB secara statistik tidak signifikan (t-hitung<1,96). Dalam hal ini, adanya perbedaan pengalaman lama beternak sebagai salah satu variabel dominan dalam indikator variabel KIP tidak mempengaruhi tingkat penerapan IB. Sebagian besar responden pada lokasi sampel memiliki kategori kurang berpengalaman dengan rata-rata lama beternak sebesar 2,8 tahun. Sebaliknya, responden di lokasi kontrol memiliki lama beternak diatas 12 tahun dengan dominasi lama beternak adalah 34-55 tahun (64%). Dalam hal ini, teknologi IB merupakan jenis teknologi baru bagi responden di kedua lokasi kajian. Di lain pihak, perkawinan ternak secara alami memiliki banyak kelemahan dengan proses yang cukup rumit. Bagi peternak yang tidak memiliki pejantan, maka peternak harus memperolehnya dengan cara meminjam atau menyewa dari peternak lain sehingga kondisi ini memberikan motivasi bagi responden dalam mengadopsi teknologi inovasi IB.

  2. Variabel yang dominan yang mempengaruhi tingkat penerapan adopsi inovasi IB dari indikator variabel karakteristik eksternal peternak (KEP) adalah intensitas penyuluhan (0,87) dan kapasitas penyuluh (-0,78) yang memberikan sumber informasi terkait inovasi teknologi IB. Dalam hal ini, tingkat keberhasilan adopsi IB tidak terlepas dari peran agen pembaharu (change agent) yang dalam hal ini adalah petugas penyuluh bersama dengan ketua kelompok peternak. Agen pembaharu secara intensif telah melakukan pembinaan, bimbingan dan pendampingan, baik melalui pertemuan khusus maupun pertemuan kelompok sebagai media komunikasi inovasi IB antar anggota kelompok (Gwin, 1982). Pada lokasi sampel di kabupaten Halmahera Utara, pembinaan, bimbingan dan pendampingan yang intensif juga telah menjadikan ketua kelompok sebagai “petugas inseminator”. Pertimbangan ini diambil sebagai konsekuensi distribusi ternak dan peternak yang relatif menyebar sehingga mengalami kesulitan dalam memperoleh pelayanan yang intensif dari petugas inseminator. Sebaliknya, indikator ketersediaan sarana (-0,36) dan pelayanan IB (-0,14) bukan merupakan indikator dominan yang mempengaruhi karakteristik eksternal peternak dalam tingkat penerapan inovasi IB. Hal ini disebabkan, kedua lokasi kajian memiliki sarana IB yang telah memadai untuk mendukung penerapan teknologi IB di masing-masing wilayah.

  3. Variabel yang dominan yang mempengaruhi tingkat penerapan adopsi inovasi IB dari indikator variabel karakteristik usaha peternak (KUP) adalah parsitipasi peternak dalam kelompok (0,91) dan nilai jual sapi (0,78). Sifat kolektif dalam adopsi inovasi teknologi IB menunjukkan pentingnya peranan kelompok sebagai media komunikasi antar peternak dalam sistem sosial masyarakat setempat sehingga para peternak dapat saling bertukar informasi terkait dengan penerapan teknologi IB (DeVito, 2000). Selain itu, media kelompok merupakan ruang bagi opinion leader untuk mempengaruhi orang lain dalam mengadopsi teknologi IB. Dalam kajian ini, teridentifikasi ketua kelompok peternak sebagai opinion leader pada lokasi sampel Halut. Dalam sistem sosial, opinion leader merupakan sumber informasi utama bagi masyarakat yang mempengaruhi pengambilan keputusan, khususnya terkait dengan adopsi teknologi IB bagi peternak (Rogers, 2003). Selain itu, penggunaan teknologi IB memberikan dampak rata-rata penerimaan pendapatan dari penjualan sapi pada lokasi sampel di kabupaten Halmahera Utara telah memberikan nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan lokasi kontrol di kabupaten Halmahera Timur yaitu Rp. 9.147.222/tahun versus Rp. 5.507.771/tahun. Adanya perbedaan nilai jual ternak hasil IB memberikan motivasi bagi peternak di lokasi sampel untuk menerapkan teknologi IB secara intensif.
  4. Variabel yang dominan yang mempengaruhi tingkat keberhasilan penerapan adopsi inovasi IB dari indikator variabel persepsi peternak adalah manajemen kesehatan (0,83) dan manajemen pemuliaan (0,58). Dalam hal ini, manajemen kesehatan merupakan mata rantai kegiatan yang mempengaruhi tingkat keberhasilan penerapan teknologi IB pada pola pemeliharaan ternak sapi ekstensif. Menurut Payne, (1997) kondisi cuaca yang panas, sangat kering atau lembab dengan ternak sapi yang dilepas di padang penggembalaan mempengaruhi status kesehatan ternak. Oleh karena itu, hampir seluruh responden pada lokasi sampel di kabupaten Halmahera Utara melakukan vaksinasi dan pemberian obat cacing (deworming) untuk penanganan masalah kesehatan ternak sapi. Hal ini dilakukan untuk mengendalikan berbagai faktor yang dapat menghambat pertumbuhan dan menurunkan kemampuan berproduksi serta reproduksi sapi secara optimal.

Dengan demikian, faktor penentu keberhasilan penerapan teknologi IB di kabupaten Halmahera Utara dipengaruhi oleh komitmen seluruh pihak, baik dari aspek teknis maupun kelembagaan IB. Dari aspek teknis, pengendalian masalah kesehatan melalui pemberian vaksin dan obat cacing secara rutin diperlukan untuk mengurangi resiko adanya gangguan serangan penyakit pada sapi yang dilepas pada sistem pemeliharaan ekstensif di padang penggembalaan. Dari aspek kelembagaan, peran aktif penyuluh, kelompok ternak, dan petugas IB mempengaruhi tingkat keberhasilaan penerapan teknologi IB. Penyuluh merupakan sumber informasi inovasi teknologi IB bagi peternak sedangkan kelompok ternak merupakan media komunikasi dan sarana pengambilan keputusan yang efektif dalam suatu sistem sosial masyarakat setempat sehingga teknologi IB dapat diadopsi secara baik dan luas oleh peternak.

Selain itu, petugas IB merupakan sumberdaya manusia yang secara langsung memberikan pelayanan penerapan teknologi IB. Ketepatan waktu dan intensitas pelayanan yang memadai sangat berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan teknologi IB. Oleh karena itu, menjadikan ketua kelompok sebagai “petugas inseminator” memiliki peran penting untuk dapat memberikan intensitas pelayanan IB yang memadai pada ternak dan peternak yang relatif menyebar di wilayah kabupaten Halmahera Utara.