JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Bertempat di meeting room Balai Karantina Pertanian Kelas II Ternate (30/10), diselenggarakan rakor sistem pelaporan dengan metode KSA. Rapat dipimpin oleh Kepala BPTP Malut dan dihadiri oleh Kepala PSEKP dan tim sebagai PJ Upsus Malut, Kadis Pertanian Provinsi beserta Kabid PSP dan Kasie Tanaman Pangan, Kabid Statistik Produksi BPS Provinsi Maluku Utara, dan Balai Karantina Pertanian Kelas II Ternate.

Dalam paparannya, Parsad Barkah Pamungkas (Kabid Statistik Produksi BPS Provinsi Malut), menjelaskan empat tahap metode terbaru dalam menghitung produksi beras, yaitu: (1) penghitungan luas baku lahan sawah; (2) luas panen dengan teknik kerangka sampel area (KSA); (3) ubinan untuk menaksir produktivitas; & (4) survey konversi GKG ke beras.

Luas baku sawah masih menggunakan data BPN tahun 2013, sedangkan KSA Maluku Utara memakai 144 segmen. Produktivitas diukur dari lahan S1 (sawah irigasi), S2 (sawah non irigasi), dan S3 (lahan kering). Untuk faktor konversi GKG ke beras Malut adalah 62,13 %. Untuk menghitung kebutuhan beras, digunakan hasil susenas 2017 yaitu tingkat konsumsi beras penduduk Malut 88 kg/kapita/tahun, "ujarnya

Pada kesempatan yang sama, Dr. Abdul Basit, Kepala PSEKP menyampaikan metode baru ini merupakan quick count dalam menghitung data pangan yang pendekatan sebelumnya eye estimate menjadi spasial berbasis satelit. Oleh karena itu tetap harus bersinergi dengan dinas pertanian di lapangan terutama dalam merilis luas baku sawah yang masih memakai data BPN 2013. Selain itu perlu juga dilakukan backcasting untuk menilai angka beberapa tahun kebelakang, "pungkasnya.