JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Ternate - Fuli pala (mace), yaa fuli mungkin belum banyak yang tahu, biasa disebut bunga pala adalah bagian berwarna merah yang menyelimuti biji pala. Bagian ini memiliki nilai jual paling tinggi dibanding biji pala itu sendiri. Selama ini fuli di ekspor melalui pedagang perantara di Manado atau Surabaya sehingga tidak pernah tercatat Maluku Utara sebagai pengekspor pala, padahal sentra pala nasional ada di sini.

Akhirnya, pada hari Jumat (13/9) fuli pala dengan tujuan ekspor india dilepas di area pelabuhan Ahmad Yani Kota Ternate. Pelapasan ekspor fuli pala dihadiri langsung oleh Kepala Badan Karantina Pertanian, Dr. Ali Jamil. Dalam sambutannya disampaikan Kementan memiliki 5 strategi untuk mendorong peningkatan ekspor produk pertanian, Online single submission (OSS), Agrogemilang, Indonesian map agricultural exports, Inline inspection, dan electronic certificate. Sebelum fuli pala diekspor, petugas karantina melakukan pemeriksaan dokumen dan fisik untuk memastikan keamanan fuli tersebut dari hama dan penyakit. Sesuai persyaratan negara tujuan, fuli diberi perlakuan fumigasi menggunakan metal bromida selama 24 jam. Setelah semua dipastikan aman sesuai persyaratan sanitary and phytosantary (SPS) dari negara tujuan, barulah kita keluarkan sertifikat sebagai jaminan dari Indonesia. Karena selama ini kendala ekspor produk pala adalah kandungan aflatoksinnya tidak memenuhi standar negara tujuan “ujarnya.

Fuli pala yang dieksport sebanyak 5 ton dengan total nilai perdagangan 1,3 Milyar. Harga fuli dibeli di petani sebesar 190 rb per Kg. Memang bulan-bulan ini harga fuli pala naik signifikan, yang biasa sebelumnya sekitar 75-90 rb per Kg.

Eksportirnya adalah CV. Tugulufa indah dan punya NPWP Maluku Utara sehingga dipastikan mereka bayar pajak di Maluku Utara. Launching ekspor perdana ini diharapkan berkelanjutan. Selain pala, Maluku Utara masih punya potensi ekspor hasil perkebunan. Selama tahun 2018, tercatat di Balai Karantina Pertanian Ternate ada produk keluar Malut berupa kopra 72,5 ribu ton, biji pala 2700 ton, fuli 214 ton, cengkeh 2rb ton, dan biji kakao 969 ton.

Jangan hanya produk mentah, diharapkan juga semua pihak bisa mendorong hilirisasi produk derivative lainnya sehingga nilai tambah komoditi dinikmati petani atau Masyarakat Maluku Utara. Secara khusus, Ali Jamil meminta BPTP bersama Pemerintah Daerah secara terus menerus melakukan edukasi petani terkait penerapan good agricultural practices (GAP) dan good handling practices (GHP) untuk meningkatkan produktivitas dan mutu hasil pala. Bahkan kalau bisa ke depan harus ada produk hilir yang diekspor dari Maluku Utara, “pungkasnya.