JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

 

Tobelo - Kelapa merupakan komoditas utama perkebunan rakyat di Kabupaten Halmahera Utara (Halut). Total sekitar 33.424 keluarga petani atau 71% dari jumlah keluarga di Halut menggantungkan perekonomian rumah tangganya pada kelapa. Luas kebun kelapa rakyat mencapai 49.082 hektar atau 71,81% dari luas tanaman perkebunan  yang ada di kabupaten tersebut. Produktivitasnya sudah cukup tinggi sebesar 1,80 ton/hektar/tahun, atau setahun mampu menghasilkan kopra sebanyak 70.785 ton.

 Namun sejak akhir 2018, anjloknya harga kopra hingga dibawah Rp 3000/Kg sempat membuat seluruh petani kelapa menjerit. Kelapa tidak bisa dipanen, karena biaya untuk membuat kopra tidak sebanding dengan harganya. Tim analisis kebijakan BPTP Malut mencoba melakukan survey upaya peningkatan daya saing kelapa. Sebenarnya, Halmahera Utara secara rutin biasa mengekspor kopra ke Philipina, tercatat di Balai Karantina Pertanian, ekspor kopra telah dilakukan sejak 2012 sebesar 30 rb ton, namun volumenya terus mengalami penurunan dan terakhir tahun 2016 ekspor kopra tinggal sebesar 850 ton. Setelah itu tidak ada lagi ekspor kopra dari Halmahera utara.

Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa kondisi usahatani kelapa petani Halmahera Utara belum banyak mengalami perubahan. Oleh karena itu, sangat terbuka peluang untuk melakukan upaya perbaikan antara lain perbaikan mutu kopra, diversifikasi produk melalui pemanfaatan tempurung, kopra putih, maupun desicated coconut; Pola tanam melalui intercropping (pala, cengkeh, palawija /pangan/hortikultura); integrasi kelapa ternak; dan Peremajaan dengan bibit unggul.

Di Halmahera Utara, terdapat beragam jenis pelaku agroindustri kelapa. Mulai dari petani yang mengusahakan tanaman kelapa dan melakukan proses pasca panen hingga perusahaan menengah dan besar yang memproduksi barang setengah jadi (semi finished products) sebagai bahan baku industri barang konsumsi (finished products). Pelaku agroindustri semi finished products kelapa lebih banyak beroperasi di wilayah tengah Halmahera Utara yakni di wilayah Tobelo. Perusahaan yang memproduksi tepung kelapa kering, kopra putih, dan arang tempurung juga sudah ada. 

Dari pengamatan di lapangan, petani belum secara optimal memanfaatkan tempurung dan sabut kelapa kecuali untuk pembakaran. Beberapa petani berinisiatif untuk memanfaatkan tempurung menjadi arang. Untuk dapat menfaatkan tempurung tersebut, petani harus mencungkil tempurung dari sabut kelapa. Proses ini memerlukan biaya tambahan yang harus dikeluarkan petani.  Dibandingkan dengan wilayah Manado, petani mengupas sabut sebelum membelah kelapa butiran. Petani mengeringkan daging kelapa tanpa mencungkil daging kelapa dari tempurungnya. Setelah mengalami proses pengeringan, daging kelapa menjadi mudah dipisahkan dari tempurungnya. Sehingga tempurung bisa dimanfaatkan tanpa biaya tambahan.

Selain aspek teknis yang dikaji, tim Anjak BPTP Malut juga mengkaji pola penguatan kelembagaan ekonomi petani untuk meingkatkan posisi daya tawar petani terhadap pasar.