JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Aktual

Pekarangan Pangan Lestari (P2L) Solusi Ketahanan Pangan Keluarga di Tengah Pandemi Covid-19

 

Oleh: Tri Setiyowati

Mahasiswa Magister Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan  IPB, 

Penyuluh Pertanian BPTP Maluku Utara

 

Saat ini Penyakit Virus Corona (Covid-19) telah menyita perhatian dunia tak terkecuali Indonesia. Berdasarkan data situs resmi pemerintah yang mengawal Covid-19, jumlah meninggal per 1 Mei 2020 akibat Covid-19 telah mencapai 800 orang. Sejak diumumkan masa darurat masuknya Covid-19 ke Indonesia awal Maret lalu kasus warga positif dan meninggal akibat virus yang belum ada obatnya ini terus bertambah.

Penyebaran Covid-19 yang massif memaksa pemerintah mengambil sejumlah kebijakan. Kebijakan terbaru yang belum lama ini diumumkan Presiden Joko Widodo adalah larangan mudik saat lebaran untuk mencegah penyebaran covid-19 semakin meluas. Sebelumnya telah ada imbauan pembatasan sosial (sosial distancing), kewajiban menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Dari sejumlah kebijakan berupa larangan berkerumun, imbauan ‘di rumah aja’, dan sejumlah imbauan lain sudah pasti berdampak terhadap kehidupan masyarakat, salah satunya yang paling nyata terlihat adalah dampak ekonomi.

Banyak pekerja dirumahkan, menurunnya daya beli masyarakat karena tidak ada pemasukan, dan sejumlah masalah pelik kini dialami masyarakat Indonesia yang bekerja disektor informal. Covid-19 tidak hanya mengancam kesehatan tetapi juga ketahanan pangan keluarga, bahkan lebih luas lagi ketahanan pangan dalam lingkup nasional. Menghadapi kondisi sulit tersebut, Kementerian Pertanian melalui Badan Ketahanan Pangan (BKP) mencoba memberi solusi, yaitu membuat dan memaksimalkan kembali program pemanfaatan pekarangan yang telah diperkenalkan sejak tahun 2010 dengan nama Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yang saat ini telah berubah nama menjadi Pekarangan Pangan Lestari (P2L).  P2L dikembangkan dengan tujuan untuk meningkatkan ketersediaan, akses dan pemanfaatan pangan bagi keluarga. Melalui P2L bisa dihasilkan pangan beragam, bergizi seimbang dan aman, sekaligus untuk meningkatan pendapatan keluarga.

Bagaimana mewujudkannya? P2L bisa dilakukan melalui pemberdayaan kelompok masyarakat. Sejalan dengan tujuan penyuluhan, Kartasapoetra (1994), pemberdayaan pun perencanaan dan pelaksanaannya harus mencakup dua tujuan, yakni tujuan pendek dan tujuan panjang. Tujuan jangka pendek yaitu untuk menumbuhkan perubahan- perubahan yang lebih terarah dalam aktivitas usaha tani di pedesaan, perubahan-perubahan tersebut menyangkut tingkat pengetahuan, kecakapan atau kemampuan sikap dan tindakan petani atau masyarakat. Adapun tujuan jangka panjang yaitu agar tercapai peningkatan taraf hidup masyarakat, mencapai kesejahteraan hidup yang lebih terjamin. Pemberdayaan kegiatan budidaya berbagai jenis tanaman dapat dilakukan dengan memanfaatkan pekarangan di sekitar rumah, atau lahan kosong yang tidak produktif melalui pengembangan rumah bibit, demplot, pertanaman dan pasca panen serta pemasaran.

Masyarakat di Indonesia bisa mencontoh Kelurahan Dorari Isa yang telah sukses mempraktekkan P2L dalam lingkungan masyarakatnya. Kelurahan Dorari Isa berada dalam wilayah administratif Kecamatan Pulau Hiri, Kota Ternate. Ternate tak hanya dikenal sebagai kota dengan keelokan pemandangan dan budayanya, tetapi juga keberdayaan masyarakatnya. Kemandirian antar pulau penting menjadi pijakan untuk mencegah penyebaran Covid-19 yang biasanya dibawa oleh orang ‘kota’ yang pulang ke ‘desa’.

 

 

 Gambar 1. (a) Aktivitas pembuatan media tanam di KBD, (b) Pemanfaatan lahan pekarangan, dan (c) Panen sayuran

 

Dengan menerapkan P2L masyarakat Kelurahan Dorari Isa yang berada di Pulau Hiri mampu mencukupi kebutuhan sayuran untuk dikonsumsi sehari-hari. Dalam proses pemberdayaan masyarakat didampingi penyuluh baik penyuluh tenaga harian lepas maupun penyuluh tenaga bantu. Sososk yang di balik suksesnya program P2L di Pulau Hiri adalah Nurlaela Yunus, SP. Penyuluh tenaga bantu yang turut memberikan pendampingan masyarakat, turut andil menggerakkan P2L dan mendampingi pemberdayaan masyrakat setempat. Bersama masyarakat Nurlela mengawal dan memastikan pemberdayaan masyarakat Kelurahan Dorari Isa yang berada di Pulau Hiri berlangsung maksimal. Perjuangan yang dilakukan Ela, panggilan Nurlela, tak mudah. Untuk menjangkau lokasi dampingan Ela harus menyeberangi lautan. Penyuluhan ia lakukan jauh sebelum Covid datang.

Bahkan hingga kini, di tengah larangan beraktivitas di luar rumah diberlakukan, dan didengungkan pemerintah ke seluruh penjuru di Indonesia, Ela tetap saja harus menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Setiap hari ia harus pergi dengan naik kapal dari Pelabuhan Sulamadaha menuju Pulau Hiri. Bukan pilihan Ela yang melanggar imbauan pemerintah, tugasnya sebagai penyuluh yang harus mendampingi masyarakat Pulau Hiri untuk melaksanakan P2L tak bisa ditinggalkan. Sebagai penyuluh Ela merasa harus memastikan pemberdayaan dan program yang mereka rancang bersama berjalan maksimal. Ela tidak bisa memilih. Jika pemberdayaan ditinggalkan, bisa dipastikan program P2L tidak akan berjalan lancar. Karena, penyuluhan tidak bisa dilakukan melalui teknologi informasi. Maklum, masyarakat di Pulau Hiri belum terakses teknologi dengan baik.

Jumlah penduduk di Kelurahan Dorari Isa sebanyak 478 orang terdiri dari 243 orang Laki-laki dan 235 orang perempuan rata-rata berumur 30-51 tahun. Pekerjaan utama masyarakatnya adalah petani (50,85%) dan nelayan (19,75%). Tingkat pendidikan masyarakat tergolong rendah karena sebagian besar hanya lulusan Sekolah Dasar (57,45%) dari total penduduknya. Dilihat dari latar belakang pendidikan tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan penyuluhan dengan menggunakan media internet. Hal inilah yang menyebabkan Ela sebagai penyuluh tetap melaksanakan aktivitas di lapangan bertemu langsung dengan para petani. Ia melakukan pekerjaannya semata demi masyarakat Pulau Hiri. Apalagi, Covid-19 bukan lagi menjadi bahan perbincangan di perkotaan. Di Pulau Hiri masyarakat sudah cukup melek bagaimana harus menjaga diri supaya tidak tertular Covid-19.

“Memang kalau dipikir-pikir kami penyuluh juga jadi target sasaran penyebaran juga kan, tapi tinggal bagaimana kita sebagai penyuluh bisa menyiasati agar kami terhindar dari Covid-19 itu sendiri” ujar Ela.

Kegiatan Penyuluhan yang dilakukan oleh Ela bukan hanya terkait masalah pentingnya pemanfaatan pekarangan di masa pandemi Covid-19, tetapi juga memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang bagaimana cara mencuci tangan yang benar juga anjuran untuk memakai masker dan menjaga jarak ketika melakukan aktivitas pertanian. Salah satu contoh penerapan anjuran pemerintah terlihat pada saat pelaksanaan Pertemuan Kelompok yang biasanya dihadiri oleh seluruh anggota kelompok, tetapi karena adanya pandemi Covid-19 ini pertemuan kelompok dilakukan dengan membatasi jumlah peserta yang hadir pada saat pertemuan, yaitu dengan mengundang pengurus kelompok dan ibu-ibu yang dianggap penggerak kegiatan P2L.

“Ibu-ibu disini sebagian sudah mengerti tentang Covid-19, mereka datang pakai masker. Sementara untuk pertemuan berskala besar, kami mengikuti peraturan pemerintah dengan membatasi jumlah anggota,” ujar Ela

P2L yang dilaksanakan di Kelurahan Dorari Isa Pulau Hiri bisa dijadikan contoh pemenuhan kebutuhan pangan keluarga oleh ibu rumah tangga dengan pemanfaatan lahan pekarangan dan lahan yang kosong di sekitar rumah. Pemanfaatan pekarangan sendiri sudah dikenal oleh masyarakat luas, jika dilaksanakan dengan penuh kesadaran maka masyarakat tidak perlu khawatir paceklik. Pemenuhan kebutuhan sayuran untuk konsumsi sehari-hari bisa diperoleh dari pekarangan tanpa harus keluar rumah. Dan pemanfaatan lahan pekarangan tidak hanya bisa dilakukan di desa karena masih banyaknya lahan kosong. Tetapi juga bisa dipraktekkan di perkotaan dengan memanfaatkan lahan sempit sekalipun. Karena ada teknologi tanam hidroponik dan saat ini banyak menjamur berkebun dengan menerapkan konsep pertanian perkotaan (Urban Farming).

 

Mengelola Ketahanan pangan di saat krisis

 

Oleh: Novendra Cahyo Nugroho

Penyuluh BPTP Maluku Utara

 

Ketika kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dikumandangkan, maka kecukupan pangan pasti menjadi perhatian utama, apakah jumlahnya tersedia, mudah dijangkau dengan harga yang wajar, dan mutunya terjaga.  Sebagai wilayah kepulauan, saat ini pangan Maluku Utara belum bisa 100% berdaulat terutama untuk komoditi yang tidak bisa dibudidayakan sendiri seperti gula pasir dan bawang putih. Kebutuhan 2 komoditi tersebut dipasok dari pulau Jawa. Bahkan secara nasional saat ini bawang putih dan gula pasir masih harus impor. Produk pangan lainnya yang masih tergantung daerah lain adalah daging ayam dan telur. Berbagai upaya telah dilakukan namun daya saing peternak lokal masih sangat terbatas. Faktor produksi peternakan ayam seperti day old chick (DOC), pakan, dan vaksin masih tergantung perusahaan besar di pulau Jawa. 

Sedangkan bahan pokok lainnya seperti beras, bawang merah, cabai rawit, cabai besar, daging sapi Sebagian masih bisa dipasok oleh produksi lokal. Hanya saja kebutuhan pangan terbesar berada di Kota Ternate, sedangkan lahan produksi berada di pulau Halmahera. Masyarakat perkotaan memang rentan terhadap ancaman krisis pangan disbanding masyarakat perdesaan. Cukup atau tidaknya pangan bisa dilihat dari supply demand dan pergerakan harga. Jika harga naik, maka supply kurang atau tetap sementara demand tetap atau naik.

Saat ini harga beras masih terpantau stabil 10.000-14.000/Kg, bahkan di sentra produksi di Haltim harga beras 9000/Kg. Bulog Ternate melaporkan masih memiliki stok 4000 ton yang cukup hingga akhir tahun. Apalagi konsumsi beras di Maluku Utara masih tergolong rendah 88 Kg/kapita/tahun dibandingkan nasional 115 Kg/kapita/tahun. Sumber karbohidrat lainnya juga melimpah. Hampir di setiap desa memiliki stok tanaman pisang, ubikayu, ubijalar, sukun, dan sagu sebagai sumber cadangan karbohidrat yang melimpah.

Dalam upaya memastikan ketahanan pangan, beberapa hal yang perlu menjadi perhatian:

Pertama, mengawasi dan mencegah adanya panic buying, karena berpotensi menimbulkan kelangkaan stok pangan di pasaran.

Kedua, mengawasi distribusi dan manajemen stok pedagang besar, distributor, maupun asosiasi pemasok. Jangan sampai ada potensi rent seeker disaat pandemi.

Ketiga, Mengoptimalkan market intelligent untuk memantau pengadaan bahan pokok dari luar daerah seperti gula pasir, bawang putih, minyak goreng kemasan, daging ayam, dan telur.

Keempat, jalur distribusi bahan pokok harus menjadi prioritas dan tidak boleh dibatasi.

Kelima, penyuluh lapangan senantiasa mendampingi dan memastikan aktivitas pertanian tidak berhenti. Informasi luas tanam, luas panen dan jadwalnya perlu disampaikan secara berjenjang melalui Kostratani kepada pengambil kebijakan. 

Keenam, Optimalisasi program asuransi pertanian dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi petani sebagai alternatif pembiayaan.

Ketujuh, Optimalisasi alat dan mesin pertanian yang digelontorkan pemerintah sejak tahun 2015 untuk mendorong penambahan luas tanam terutama komoditas strategis seperti padi, jagung, bawang merah, dan cabai.

Adanya Covid-19 memberikan sinyal kepada kita semua agar lebih aware terhadap masalah pangan. Perlu upaya yang serius dan segera dari pemerintah yang didukung oleh masyarakat agar kita yakin bahwa logistik pangan terjamin selama pandemi Covid-19.

 

 

 

 

Gane Barat - Gempa yang terjadi di Kawasan Gane, Kab. Halmahera Selatan tanggal 14 Juli dengan magnitudo yang cukup besar 7,2 SR telah menyisakan berbagai kerusakan rumah dan fasilitas umum bahkan terdapat korban jiwa meninggal dan luka-luka. Keluarga besar BPTP Maluku Utara berupaya menggalang bantuan kemanusiaan dan pada hari Selasa (17/7), tim BPTP mendistribusikan bantuan ke POSKO lapangan di Saketa, Kecamatan Gane Barat. 

Setelah menempuh perjalanan selama 6 jam dari Sofifi, tim tiba di Saketa, Kecamatan Gane Barat, Kab. Halmahera Selatan. Aksesibilitas darat mnuju lokasi POSKO bantuan secara umum cukup baik meskipun di beberapa titik terdapat bahu jalan yang longsor dan 15 titik pembangunan jembatan.

Sesampai Posko logistik Saketa yang berada di Puskesmas Kecamatan Gane Barat, tim BPTP di sambut oleh Bapak Dahrun Kasuba, Sekretaris Kesbangpol Kab. Halsel dan Affandi, Anggota KODIM 1509 Labuha. Bantuan yang berupa beras, mie instan, air mineral, bubur bayi, biskuit, pembalut wanita, pampers bayi, Obat2xan, terpal, dan pakaian layak pakai telah diserahkan kepada petugas di POSKO untuk selanjutnya akan didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Hasil pantauan selama perjalanan, tidak hanya aparat pemerintah, Kementerian/Lembaga, TNI, dan POLRI, namun banyak juga ditemui relawan dari lembaga-lembaga sosial yang membantu masyarakat di wilayah Gane. Sampai kemarin sore, masyarakat masih banyak yang mengungsi di daerah ketinggian dikarenakan sesekali masih ada aftershock.

Hasil diskusi dengan relawan dan tim di POSKO, kendala yang ditemui adalah distribusi bantuan ke wilayah yang belum ada akses jalan darat menjadi hambatan seperti di Kecamatan Kepulauan Joronga, Gane Timur selatan, dan Gane barat selatan. Semoga ketulusan seluruh Masyarakat yang membantu bisa menjadi ladang amal buat kita semua.

 

 

 

Menjaga Kualitas Benih Padi, Mengawal Kedaulatan Pangan

Oleh Fadjry Djufri

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian RI;  Ketua Komtek Pangan dan Pertanian Dewan Riset Nasional

 

Setiap makhluk hidup, termasuk manusia - butuh makan. Pemenuhan kebutuhan pangan secara berkelanjutan sangat dibutuhkan untuk merespon pertumbuhan penduduk yang terus meningkat. Oleh karenanya sektor pertanian menjadi tulang punggung perekonomian utama dalam pembangunan nasional. 

Di Indonesia, produk pertanian utama seperti beras menjadi komoditas strategis sehingga pemerintah terus berupaya untuk menjaga stabilitas dan keberlanjutan produksinya. Dalam sistem produksi pertanian, benih unggul menjadi faktor utama pendongkrak produksi. 

Revolusi hijau yang terjadi pada tahun 1960an dan telah menyelamatkan dunia dari ancaman kelaparan berawal dari ditemukannya benih varietas unggul yang berproduksi tinggi dan tahan terhadap hama penyakit yang ada pada masa tersebut. Sejak saat itu hingga kini, para pemulia tanaman terus berupaya untuk mendapatkan varietas-varietas baru yang lebih unggul merespon perubahan lingkungan yang sangat dinamis.

Peran strategis benih varietas unggul dalam sistem produksi pertanian mengharuskan pemerintah untuk melindungi petani agar mendapatkan benih unggul yang terjamin mutu dan keunggulannya. Proses peredaran benih di Indonesia diatur dalam UU No 12 tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman. Berdasarkan perundang-undangan tersebut varietas hasil pemuliaan atau introduksi dari luar negeri sebelum diedarkan terlebih dahulu dilepas oleh Pemerintah.

Benih hasil pemuliaan yang telah dilepas oleh Pemerintah juga harus disertifikasi sebelum diedarkan ke masyarakat. Tujuan utama dari pelepasan dan sertifikasi benih varietas unggul ini adalah untuk melindungi petani sebagai pengguna varietas unggul agar mendapatkan benih yang keunggulannya sesuai dengan deskripsi dan menghindarkan terjadinya penyebaran hama dan penyakit yang ditularkan oleh benih.

Tata cara pelepasan varietas telah diatur oleh Pemerintah melalui Permentan No. 40/TP.010/11/2017 tentang Pelepasan Varietas Tanaman Pangan, yang dijabarkan dalam standar operasional pelepasan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian. Untuk komoditas tanaman pangan seperti padi, jagung dan kedelai, disyaratkan adanya uji adaptasi sebelum calon varietas padi dapat dilepas secara resmi oleh Pemerintah.

Uji adaptasi adalah serangkaian pengujian yang dilakukan untuk menilai stabilitas hasil calon varietas di beberapa lokasi yang berbeda dan untuk mengetahui ketahanan calon varietas terhadap hama penyakit penting di Indonesia seperti wereng coklat, hawar daun bakteri, blas dan tungro. Sebagai contoh, dalam peraturan yang baru, uji adaptasi untuk padi sawah sekurangnya harus dilakukan di delapan lokasi.

Dari uji adaptasi ini dapat diketahui potensi produksi calon varietas dan dapat ditentukan rekomendasi daerah yang cocok untuk menanam varietas tersebut. Selain itu dapat diketahui apakah calon varietas tahan atau peka terhadap hama penyakit tertentu. Infomasi tersebut sangat penting bagi petani agar dapat memilih varietas mana yang sesuai dengan daerahnya dan terhindar dari kehilangan hasil akibat serangan hama penyakit. 

Biaya untuk melakukan uji adaptasi ini tergolong mahal karena membutuhkan pengujian di banyak lokasi dan penelitian intensif di rumah kaca dan laboratorium.

Untuk membantu lembaga penyelenggara pemuliaan yang mempunyai galur-galur potensial tetapi terkendala biaya, Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian telah melakukan upaya untuk mempercepat pelepasan calon varietas padi unggul melalui Konsorsium Padi Nasional.

Melalui konsorsium ini calon-calon varietas dari berbagai Lembaga seperti IPB, Unsoed, BATAN dan kelompok tani yang melakukan pemuliaan padi diuji bersama dalam uji adaptasi yang dibiayai oleh Pemerintah. Banyak varietas ungul yang dilepas melalui konsorsium ini seperti yang terbaru padi gogo IPB 9G dari IPB dan Unsoed Parimas dari Unsoed, padi sawah toleran salinitas Inpari Unsoed 79 Agritan dari Unsoed, padi sawah irigasi Inpari Sidenuk dan Mustaban Agritan dari BATAN, serta Inpari 44 dari Kelompok Tani IPPHTI di Indramayu.

Pentingnya varietas unggul dalam meningkatkan produksi padi telah menarik minat banyak pihak untuk melakukan proses pemuliaan termasuk oleh para petani kecil di daerah. Mahkamah Konstitusi telah melakukan amandemen terhadap UU No 12 tahun 1992 yang memberikan pengecualian kepada perorangan petani kecil dalam melakukan pemuliaan, sehingga memberikan kesempatan kepada petani kecil untuk melepas varietas hasil pemuliaannya tanpa melalui uji adaptasi yang membutuhkan biaya yang tinggi. 

Menindaklanjuti putusan MK tersebut, proses pelepasan varietas oleh petani kecil telah diatur tersendiri oleh Pemerintah. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 40 tahun 2017, perorangan petani kecil yang dikecualikan dari aturan pelepasan varietas tersebut adalah petani perorangan yang melakukan usaha budidaya tanaman pangan di lahan paling luas 2 hektar atau budadaya tanaman perkebunan paling luas 25 hektar. Varietas hasil pemuliaan perorangan petani kecil tersebut wajib didaftar oleh Dinas yang melaksanakan urusan pemerintahan di bidang tanaman pangan, perkebunan atau peternakan.

Selain membudidayakan varietas unggul, petani masih banyak yang menanam varietas lokal secara turun temurun. Indonesia merupakan pusat keragaman genetik tanaman padi di dunia. sehingga banyak memiliki varietas lokal dengan beragam keunggulan.

Varietas lokal merupakan varietas yang telah ada dan dibudidayakan secara turun-temurun oleh petani, serta menjadi milik masyarakat dan dikuasai oleh negara. Pada umumnya varietas lokal yang saat ini masih ditanam oleh petani produksinya lebih rendah dibanding varietas unggul dan umur panennya lebih lama. Namun varietas-varietas lokal tersebut memiliki berbagai kelebihan lain seperti mutu berasnya dan ketahanannya terhadap penyakit yang bersifat spesifik untuk suatu wilayah.

Beberapa varietas lokal yang masih banyak ditanam petani antara lain Pandanwangi di Jawa Barat, Rojolele di Jawa Tengah, Padi Adan dan Padi Siam di Kalimantan. Peredaran benih varietas lokal tersebut juga telah diatur oleh Pemerintah untuk menjamin keunggulan dan mutu yang dimiliki oleh varietas lokal.

Pemda yang menginginkan benih padi lokalnya dikembangkan dalam skala luas dapat mendaftarkan hak perlindungannya. Juga dapat mengajukan pelepasannya kepada Pemerintah. Proses pelepasan varietas lokal lebih mudah dibandingkan varietas hasil pemuliaan karena tidak membutuhkan pengujian di berbagai lokasi.

Sebagai contoh varietas lokal Rojolele dan Pandanwangi saat ini telah dilepas secara resmi oleh Pemerintah dan benihnya dapat diedarkan secara luas setelah melalui proses sertifikasi.

Varietas lokal yang diusulkan dilepas sebagai varietas unggul harus memenuhi syarat. Di antaranya ditanam secara luas oleh masyarakat di suatu wilayah, memiliki keunggulan, dan telah dibudidayakan lebih dari 5 tahun untuk tanaman semusim atau 5 kali panen untuk tanaman tahunan.

Pelepasan varietas lokal di antaranya bertujuan untuk memperoleh legalitas dari pemerintah bahwa varietas yang diusulkan menjadi varietas regional/nasional; memperoleh legalitas bagi upaya produksi benih bersertifikat; memperoleh kesetaraan hak dalam pemanfaatan benih bermutu pada semua program perbenihan di lingkup Kementerian Pertanian dan Kementerian lainnya; serta meningkatkan nilai manfaat dan nilai ekonomis dari benih varietas yang diputihkan bagi masyarakat dan pemerintah daerah.

 

 Pembungaan pala Halteng  terjadi pada waktu yang sama antara pohon monoecious dan dioecious. Umumnya bunga pertama kali muncul ketika tanaman mencapai umur 5-7 tahun. Bunga pada pohon jantan pala Halteng lebih lebat dibanding pohon betina. Jumlah  tiap tangkai bunga pala Halteng lebih banyak  sekitar 4-6 bunga. Tananam pala berbunga lebat dua kali setahun, yaitu pada bulan April – Mei serta November – Desember. Bunga pala akan berkembang menjadi buah dan siap di panen setelah 9-10 bulan. Masa berbunga dan berbuah tanaman pala akan terus berlangsung silih berganti tanpa ada batas yang jelas antara musim pertama dan kedua. 

Rendemen minyak fuli pala Halteng lebih tinggi sedikit dibanding minyak pala Banda yakni berkisar (7– 14,17) : (10-14) %. Bila dibanding dengan biji pala Patani 33 (Bulat) lebih tinggi dari minyak pala Banda

 

 

 Tabel 1. Kandungan kimia daging buah pala Patani

No

Jenis analisis (Kadar)

Daging buah Pala Patani

Bulat

Lonjong

Hijau

1

Protein (%)

0,57

0,58

0,86

2

Karbohidrat (pati) (%)

2,66

2,67

2,95

3

Lemak (%)

5,09

1,75

0,76

4

Gula (%)

1,04

1,12

1,19

 

 

 

 

 

 

Tabel 2. Kandungan kimia Fuli pala Patani

No

Jenis analisis (Kadar)

Fuli Pala Patani

Bulat

Lonjong

Hijau

Campuran

1

Minyak atsiri (%)

14.17

8,85

Ab

7,56

2

Sabinen (%)

Ttd

Ttd

Ab

Ttd

3

Safrol (%)

O,09

0,51

Ab

0,04

4

Miristisin (%)

4,26

7,26

Ab

2,78

5

Metil Eugenol (%)

0,06

1,00

Ab

0,12

Tabel 3. Kandungan kimia daun dan biji pala Patani

No

Jenis Pengujian

Daun pala Patani

Biji Patani 33

1

Warna

Kuning pucat

Jernih tidak berwarna

2

Berat jenis 250/250C

0,8707

0,9115

3

Indeks bias 250C

1,4719

1,4885

4

Putaran optik

+30,170

-

5

Kelarutan dalam alkohol 90 %

Larutan jernih 1:1

1:1

6

Miristisin (%)

1,24

20,17

7

Kadar minyak atsiri (%)

-

26,61