JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Aktual

 

Menjaga Kualitas Benih Padi, Mengawal Kedaulatan Pangan

Oleh Fadjry Djufri

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian RI;  Ketua Komtek Pangan dan Pertanian Dewan Riset Nasional

 

Setiap makhluk hidup, termasuk manusia - butuh makan. Pemenuhan kebutuhan pangan secara berkelanjutan sangat dibutuhkan untuk merespon pertumbuhan penduduk yang terus meningkat. Oleh karenanya sektor pertanian menjadi tulang punggung perekonomian utama dalam pembangunan nasional. 

Di Indonesia, produk pertanian utama seperti beras menjadi komoditas strategis sehingga pemerintah terus berupaya untuk menjaga stabilitas dan keberlanjutan produksinya. Dalam sistem produksi pertanian, benih unggul menjadi faktor utama pendongkrak produksi. 

Revolusi hijau yang terjadi pada tahun 1960an dan telah menyelamatkan dunia dari ancaman kelaparan berawal dari ditemukannya benih varietas unggul yang berproduksi tinggi dan tahan terhadap hama penyakit yang ada pada masa tersebut. Sejak saat itu hingga kini, para pemulia tanaman terus berupaya untuk mendapatkan varietas-varietas baru yang lebih unggul merespon perubahan lingkungan yang sangat dinamis.

Peran strategis benih varietas unggul dalam sistem produksi pertanian mengharuskan pemerintah untuk melindungi petani agar mendapatkan benih unggul yang terjamin mutu dan keunggulannya. Proses peredaran benih di Indonesia diatur dalam UU No 12 tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman. Berdasarkan perundang-undangan tersebut varietas hasil pemuliaan atau introduksi dari luar negeri sebelum diedarkan terlebih dahulu dilepas oleh Pemerintah.

Benih hasil pemuliaan yang telah dilepas oleh Pemerintah juga harus disertifikasi sebelum diedarkan ke masyarakat. Tujuan utama dari pelepasan dan sertifikasi benih varietas unggul ini adalah untuk melindungi petani sebagai pengguna varietas unggul agar mendapatkan benih yang keunggulannya sesuai dengan deskripsi dan menghindarkan terjadinya penyebaran hama dan penyakit yang ditularkan oleh benih.

Tata cara pelepasan varietas telah diatur oleh Pemerintah melalui Permentan No. 40/TP.010/11/2017 tentang Pelepasan Varietas Tanaman Pangan, yang dijabarkan dalam standar operasional pelepasan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian. Untuk komoditas tanaman pangan seperti padi, jagung dan kedelai, disyaratkan adanya uji adaptasi sebelum calon varietas padi dapat dilepas secara resmi oleh Pemerintah.

Uji adaptasi adalah serangkaian pengujian yang dilakukan untuk menilai stabilitas hasil calon varietas di beberapa lokasi yang berbeda dan untuk mengetahui ketahanan calon varietas terhadap hama penyakit penting di Indonesia seperti wereng coklat, hawar daun bakteri, blas dan tungro. Sebagai contoh, dalam peraturan yang baru, uji adaptasi untuk padi sawah sekurangnya harus dilakukan di delapan lokasi.

Dari uji adaptasi ini dapat diketahui potensi produksi calon varietas dan dapat ditentukan rekomendasi daerah yang cocok untuk menanam varietas tersebut. Selain itu dapat diketahui apakah calon varietas tahan atau peka terhadap hama penyakit tertentu. Infomasi tersebut sangat penting bagi petani agar dapat memilih varietas mana yang sesuai dengan daerahnya dan terhindar dari kehilangan hasil akibat serangan hama penyakit. 

Biaya untuk melakukan uji adaptasi ini tergolong mahal karena membutuhkan pengujian di banyak lokasi dan penelitian intensif di rumah kaca dan laboratorium.

Untuk membantu lembaga penyelenggara pemuliaan yang mempunyai galur-galur potensial tetapi terkendala biaya, Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian telah melakukan upaya untuk mempercepat pelepasan calon varietas padi unggul melalui Konsorsium Padi Nasional.

Melalui konsorsium ini calon-calon varietas dari berbagai Lembaga seperti IPB, Unsoed, BATAN dan kelompok tani yang melakukan pemuliaan padi diuji bersama dalam uji adaptasi yang dibiayai oleh Pemerintah. Banyak varietas ungul yang dilepas melalui konsorsium ini seperti yang terbaru padi gogo IPB 9G dari IPB dan Unsoed Parimas dari Unsoed, padi sawah toleran salinitas Inpari Unsoed 79 Agritan dari Unsoed, padi sawah irigasi Inpari Sidenuk dan Mustaban Agritan dari BATAN, serta Inpari 44 dari Kelompok Tani IPPHTI di Indramayu.

Pentingnya varietas unggul dalam meningkatkan produksi padi telah menarik minat banyak pihak untuk melakukan proses pemuliaan termasuk oleh para petani kecil di daerah. Mahkamah Konstitusi telah melakukan amandemen terhadap UU No 12 tahun 1992 yang memberikan pengecualian kepada perorangan petani kecil dalam melakukan pemuliaan, sehingga memberikan kesempatan kepada petani kecil untuk melepas varietas hasil pemuliaannya tanpa melalui uji adaptasi yang membutuhkan biaya yang tinggi. 

Menindaklanjuti putusan MK tersebut, proses pelepasan varietas oleh petani kecil telah diatur tersendiri oleh Pemerintah. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 40 tahun 2017, perorangan petani kecil yang dikecualikan dari aturan pelepasan varietas tersebut adalah petani perorangan yang melakukan usaha budidaya tanaman pangan di lahan paling luas 2 hektar atau budadaya tanaman perkebunan paling luas 25 hektar. Varietas hasil pemuliaan perorangan petani kecil tersebut wajib didaftar oleh Dinas yang melaksanakan urusan pemerintahan di bidang tanaman pangan, perkebunan atau peternakan.

Selain membudidayakan varietas unggul, petani masih banyak yang menanam varietas lokal secara turun temurun. Indonesia merupakan pusat keragaman genetik tanaman padi di dunia. sehingga banyak memiliki varietas lokal dengan beragam keunggulan.

Varietas lokal merupakan varietas yang telah ada dan dibudidayakan secara turun-temurun oleh petani, serta menjadi milik masyarakat dan dikuasai oleh negara. Pada umumnya varietas lokal yang saat ini masih ditanam oleh petani produksinya lebih rendah dibanding varietas unggul dan umur panennya lebih lama. Namun varietas-varietas lokal tersebut memiliki berbagai kelebihan lain seperti mutu berasnya dan ketahanannya terhadap penyakit yang bersifat spesifik untuk suatu wilayah.

Beberapa varietas lokal yang masih banyak ditanam petani antara lain Pandanwangi di Jawa Barat, Rojolele di Jawa Tengah, Padi Adan dan Padi Siam di Kalimantan. Peredaran benih varietas lokal tersebut juga telah diatur oleh Pemerintah untuk menjamin keunggulan dan mutu yang dimiliki oleh varietas lokal.

Pemda yang menginginkan benih padi lokalnya dikembangkan dalam skala luas dapat mendaftarkan hak perlindungannya. Juga dapat mengajukan pelepasannya kepada Pemerintah. Proses pelepasan varietas lokal lebih mudah dibandingkan varietas hasil pemuliaan karena tidak membutuhkan pengujian di berbagai lokasi.

Sebagai contoh varietas lokal Rojolele dan Pandanwangi saat ini telah dilepas secara resmi oleh Pemerintah dan benihnya dapat diedarkan secara luas setelah melalui proses sertifikasi.

Varietas lokal yang diusulkan dilepas sebagai varietas unggul harus memenuhi syarat. Di antaranya ditanam secara luas oleh masyarakat di suatu wilayah, memiliki keunggulan, dan telah dibudidayakan lebih dari 5 tahun untuk tanaman semusim atau 5 kali panen untuk tanaman tahunan.

Pelepasan varietas lokal di antaranya bertujuan untuk memperoleh legalitas dari pemerintah bahwa varietas yang diusulkan menjadi varietas regional/nasional; memperoleh legalitas bagi upaya produksi benih bersertifikat; memperoleh kesetaraan hak dalam pemanfaatan benih bermutu pada semua program perbenihan di lingkup Kementerian Pertanian dan Kementerian lainnya; serta meningkatkan nilai manfaat dan nilai ekonomis dari benih varietas yang diputihkan bagi masyarakat dan pemerintah daerah.

 

Gane Barat - Gempa yang terjadi di Kawasan Gane, Kab. Halmahera Selatan tanggal 14 Juli dengan magnitudo yang cukup besar 7,2 SR telah menyisakan berbagai kerusakan rumah dan fasilitas umum bahkan terdapat korban jiwa meninggal dan luka-luka. Keluarga besar BPTP Maluku Utara berupaya menggalang bantuan kemanusiaan dan pada hari Selasa (17/7), tim BPTP mendistribusikan bantuan ke POSKO lapangan di Saketa, Kecamatan Gane Barat. 

Setelah menempuh perjalanan selama 6 jam dari Sofifi, tim tiba di Saketa, Kecamatan Gane Barat, Kab. Halmahera Selatan. Aksesibilitas darat mnuju lokasi POSKO bantuan secara umum cukup baik meskipun di beberapa titik terdapat bahu jalan yang longsor dan 15 titik pembangunan jembatan.

Sesampai Posko logistik Saketa yang berada di Puskesmas Kecamatan Gane Barat, tim BPTP di sambut oleh Bapak Dahrun Kasuba, Sekretaris Kesbangpol Kab. Halsel dan Affandi, Anggota KODIM 1509 Labuha. Bantuan yang berupa beras, mie instan, air mineral, bubur bayi, biskuit, pembalut wanita, pampers bayi, Obat2xan, terpal, dan pakaian layak pakai telah diserahkan kepada petugas di POSKO untuk selanjutnya akan didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Hasil pantauan selama perjalanan, tidak hanya aparat pemerintah, Kementerian/Lembaga, TNI, dan POLRI, namun banyak juga ditemui relawan dari lembaga-lembaga sosial yang membantu masyarakat di wilayah Gane. Sampai kemarin sore, masyarakat masih banyak yang mengungsi di daerah ketinggian dikarenakan sesekali masih ada aftershock.

Hasil diskusi dengan relawan dan tim di POSKO, kendala yang ditemui adalah distribusi bantuan ke wilayah yang belum ada akses jalan darat menjadi hambatan seperti di Kecamatan Kepulauan Joronga, Gane Timur selatan, dan Gane barat selatan. Semoga ketulusan seluruh Masyarakat yang membantu bisa menjadi ladang amal buat kita semua.

 

 

Jakarta - Sejumlah area tanam mengalami dampak kekeringan pada musim kemarau 2019. Namun, dampak tersebut mampu diatasi secara baik dengan mekanisasi pompa serta keterlibatan tentara dalam mengawal petani agar terus berproduksi.

 Terkait hal ini, Waster Kasad Brigjen TNI Gathut Setyo Utomo mendukung upaya Kementerian Pertanian (Kementan) dalam menanggulangi dampak kekeringan yang melanda sejumlah daerah. Dukungan itu antara lain melibatkan langsung personel TNI yang ada di seluruh daerah.

 "Kita dalam melaksanakan operasi militer, selain perang salah satunya adalah mengatasi kekeringan atau bencana alam. Maka itu, kita menjalin bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk melakukan pendampingan," ujar Gathut dalam rapat koordinasi mitigasi kekeringan di Gedung Auditorium Kementan, Senin (8/7).

 Menurut dia, TNI sendiri selama empat tahun terkahir sudah melibatkan diri pada penanganan dampak kekeringan. Pengalaman itu, kata Gathut, menjadi bekal bahwa pemetaan wilayah dan pompanisasi menjadi penting dan harus dikerjakan bersama-sama.

 "Soal mitigasi, tentu kita sudah memiliki pengalaman banyak karena beberapa kali kita turun ke lapangan bersama Kementan. Jadi, seperti kata Pak Dirjen tanaman pangan, bahwa menanggulangi kekeringan itu tidak bisa sendirian. Bagaimanapun harus ada sinergitas," katanya.

 Gathut mengatakan, dukungan lain yang juga sedang dikerjakan TNI adalah mendirikan posko mitigasi kekeringan di daerah-daerah yang terkena dampak. Beberapa diantaranya ada di kawasan Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan provinsi lain diluar pulau Jawa.

 "Selama ini kan kita sudah melakukan pendampingan Upsus (Upaya Khusus) yang diinisiasi para Babinsa. Di sana, mereka juga mengawal pembagian air supaya tidak rebutan dan menjebol titik air. Kemudian kita ikut mengawasi jalanya pompanisasi serta menjaga kemanan dan ketertiban lain," katanya.

 Sekedar diketahui, rapat mitigasi ini dihadiri 200 personel TNI yang mewakili tiap daerah untuk mengawal dan mendampingi petani dalam menghadapi dampak kekeringan.

 Sementara itu, Dirjen Tanaman Pangan Gatot Irianto mengatakan bahwa dampak kekeringan tahun ini relatif bisa diatasi mengingat area yang dulu mengalami kekeringan sudah dijadikan sumber air dengan pemanfaatan teknologi yang dimiliki.

 "Jadi kita ingin sampaikan bahwa pendekatan mitigasi dan adaptasi kekeringan kali ini berbeda dengan sebelumnya. Kalau sekarang kita memanfaatkan wilayah yang dulunya kering menjadi sumber air," katanya.

 Kata Gatot, penggunaan pompa merupakan salah satu pemanfaatan teknologi yang mampu menumbuhkan luas lahan baru dan mengkompensasi lahan busuk menjadi produktif. Selain itu, panen yang dihasilkan juga lebih bermutu karena optik organisme pengganggu tanaman relatif lebih kecil.

 "Berikutnya, seperti yang dikatakan pak Menteri; bahwa mobilisasi alat mesin pompa termasuk infrastruktur dan pipanisasi harus siap di daerah yang terdampak kekeringan. Kemudian kita juga menyiapkan benih unggul yang bisa beradaptasi di lahan bekas kering," katanya.

 Dirjen Prasarana dan Sarana Kementerian Pertanian Sarwo Edhi, mengatakan bahwa saat ini pemerintah sudah mendistribusikan ribuan unit alat pompa yang mampu menghasilkan air pada kedalaman 20 sampi 25 meter. Alat itu juga mampu menampung air sebanyak 1500 M3 dan bisa mengakhiri 50 sampai 70 hektar lahan kering.

 "Beberapa teknologi itu mendukung varietas unggul seperti padi impara yang sangat cocok di lahan rawa. Ini sudah cukup berkembang di beberapa provinsi yang pernah terendam. Kita juga punya padi gogo yang tahan di lahan kering," katanya.

 Edhi mengatakan, dengan berbagai alat yang dimiliki, serta kerjasama yang insten antar instansi diharapkan mampu menjadikan semua lahan kering menjadi tanaman produktif.

 "Tentu kita berharap dengan berbagai bantuan ini semua pemanfaatan sumber air yang ada bisa kita atasi dengan mudah," katanya.

 Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Fadjry Djufry, menambahkan bahwa masuknya musim kemarau bukan berarti menjadi hambatan serius untuk meningkatkan semua produksi.

 "Artinya semua lahan yang potensinya masih cukup untuk ditanami ya kita tanami. Jadi tidak ada lahan yang kosong. Makanya harus ada kerjasama yang erat antar pihak, termasuk dengan TNI," tukasnya.

 

 

 

 Pembungaan pala Halteng  terjadi pada waktu yang sama antara pohon monoecious dan dioecious. Umumnya bunga pertama kali muncul ketika tanaman mencapai umur 5-7 tahun. Bunga pada pohon jantan pala Halteng lebih lebat dibanding pohon betina. Jumlah  tiap tangkai bunga pala Halteng lebih banyak  sekitar 4-6 bunga. Tananam pala berbunga lebat dua kali setahun, yaitu pada bulan April – Mei serta November – Desember. Bunga pala akan berkembang menjadi buah dan siap di panen setelah 9-10 bulan. Masa berbunga dan berbuah tanaman pala akan terus berlangsung silih berganti tanpa ada batas yang jelas antara musim pertama dan kedua. 

Rendemen minyak fuli pala Halteng lebih tinggi sedikit dibanding minyak pala Banda yakni berkisar (7– 14,17) : (10-14) %. Bila dibanding dengan biji pala Patani 33 (Bulat) lebih tinggi dari minyak pala Banda

 

 

 Tabel 1. Kandungan kimia daging buah pala Patani

No

Jenis analisis (Kadar)

Daging buah Pala Patani

Bulat

Lonjong

Hijau

1

Protein (%)

0,57

0,58

0,86

2

Karbohidrat (pati) (%)

2,66

2,67

2,95

3

Lemak (%)

5,09

1,75

0,76

4

Gula (%)

1,04

1,12

1,19

 

 

 

 

 

 

Tabel 2. Kandungan kimia Fuli pala Patani

No

Jenis analisis (Kadar)

Fuli Pala Patani

Bulat

Lonjong

Hijau

Campuran

1

Minyak atsiri (%)

14.17

8,85

Ab

7,56

2

Sabinen (%)

Ttd

Ttd

Ab

Ttd

3

Safrol (%)

O,09

0,51

Ab

0,04

4

Miristisin (%)

4,26

7,26

Ab

2,78

5

Metil Eugenol (%)

0,06

1,00

Ab

0,12

Tabel 3. Kandungan kimia daun dan biji pala Patani

No

Jenis Pengujian

Daun pala Patani

Biji Patani 33

1

Warna

Kuning pucat

Jernih tidak berwarna

2

Berat jenis 250/250C

0,8707

0,9115

3

Indeks bias 250C

1,4719

1,4885

4

Putaran optik

+30,170

-

5

Kelarutan dalam alkohol 90 %

Larutan jernih 1:1

1:1

6

Miristisin (%)

1,24

20,17

7

Kadar minyak atsiri (%)

-

26,61

Musim tanam padi di periode April September ini sudah mulai tiba. Memasuki musim kemarau (MK) tahun ini, para petani mulai sibuk mempersiapkan lahan untuk segera mengolah sawah dan menanam padi. Petani selalu bersemangat dengan penuh harapan untuk memperoleh hasil panen yang melimpah. Keberhasilan dalam usaha pertanian sangat menentukan kualitas hidup masayarakat petani. Berdasarkan prediksi Kalender Tanam (KATAM) versi 2.7 untuk Maluku Utara, potensi hambatan budidaya padi masih didominasi oleh serangan OPT. Berkembangnya OPT tidak jarang menyebabkan tanaman yang dibudidayakan mengalami puso atau gagal panen. Berbekal dari pengalamam dimusim-musim sebelumnya, diharapkan para petani dapat belajar mengingat irama atau gejolak alam yang sering muncul di lahan pertaniannya.  Oleh karena itu, perlu diwaspadai perkembangan OPT utama pada di musim kemarau ini, apalagi sumber OPT dari musim sebelumnya berkembang dengan intensitas yang tinggi, hal ini diduga karena terjadi anomali iklim yang ditunjukan dengan musim kemarau basah.

Perubahan irama iklim yang terjadi semakin sulit diramalkan, kondisi semacam ini secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada perubahan perilaku organisme yang berkembang di pertanaman padi. Ketidaknormalan iklim ini berakibat pula pada meningkatnya gangguan oleh berbagai organisme pada tanaman padi. Kondisi musim kemarau dengan curah hujan yang masih tinggi membuat peluang besar terhadap berkembangnya organisme pengganggu tumbuhan. Hama wereng batang coklat, penggerek batang padi kuning, dan tikus masih menjadi hama utama, karena serangannya sering menyebabkan tanaman padi menjadi puso. Pada musim kemarau 2019 ini menurut pengakuan petani di beberapa wilayah, hama wereng coklat dan wereng hijau sebagai vektor tungro berkembang pesat di beberapa daerah sentra produksi padi mengakibatkan produksi padi yang diperoleh hanya berkisar 1,5-2 ton/ha. Hal ini perlu diwaspadai oleh petani untuk mempersiapkan pertanaman musim hujan, karena sumber wereng coklat masih banyak terdapat pada ratun-ratun atau singgang yang tumbuh dari tunggul tanaman padi yang dipanen.

Di beberapa daerah yang airnya selalu tersedia, petani berusaha meningkatkan indeks pertanaman (IP 300) dengan menanam padi unggul berumur pendek, sehingga setahun dapat menanam padi 3 kali. Produksi padi meningkat dengan pola tanam tersebut, tetapi pola tanam padi-padi-palawija semakin ditinggalkan. Petani tidak menyadari bahwa cara budidaya semacam ini membuat makanan bagi serangga hama padi selalu tersedia sepanjang tahun. Apalagi, bila terjadi pada hamparan sawah dengan pola tanam yang tidak serempak. Kondisi tersebut di atas mendorong peningkatan dengan pesat populasi dan serangan hama karena siklus hidup hama tidak putus.

 

 Agroekosistem dan Keseimbangan Alam

Suatu serangga berkembang menjadi hama bila telah menimbulkan kerusakan yang menyebabkan kerugian. Pergeseran status serangga menjadi hama pada rantai kehidupan sangat terkait oleh kegiatan manusia dalam menerapkan praktik teknologi budidaya dalam suatu agroekosistem.  Oleh karena itu, manusialah yang menempatkan suatu jenis serangga dalam kategori hama, baik secara permanen maupun temporal. Manusia menganggap serangga sebagai hama, karena ada kesamaan kebutuhan antara manusia dan serangga dalam  hal makanan.

Faktor lingkungan amat menentukan keberadaan suatu spesies serangga pada tempat tertentu. Disamping ketersediaan makanan, hubungan suatu spesies organisme dengan organisme lainnya juga sangat menentukan kelangsungan hidupnya.  Prinsip ekologi adalah mengatur hubungan atau interaksi antara serangga dengan serangga atau dengan organisme lain dan juga manusia. Perkembangan teknologi yang pesat mendorong manusia untuk semakin jauh memodifikasi keterkaitan interaksi antar organisme dalam sistem kehidupan dalam lingkup keseimbangan alam pertanian.

Manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dengan sengaja mengubah ekosistem alami menjadi ekosistem baru. Ekosistem baru yang diciptakan khusus untuk kepentingan pertanian disebut sebagai agroekosistem. Dalam agroekosistem komponennya lebih sederhana, biasanya terdiri dari populasi tanaman pertanian seragam (monokultur). Misalnya di sawah hanya terdapat tanaman padi saja. Sehingga keanekaragaman tanaman dalam agroekosistem sangat kecil, dan interaksi antar species organisme yang menghuninya menjadi sangat sederhana atau tidak stabil.  Dengan menyederhanakan ekosistem, tanpa disadari bahwa manusia sebenarnya telah mengubah keseimbangan alam. Keadaan ini dapat menyebabkan spesies serangga yang cocok dengan lingkungannya dapat bertambah dengan cepat. Serangga tersebut mempunyai tingkat reproduksi yang cepat dengan waktu generasi yang pendek. Sehingga serangga tersebut mempunyai potensi berkembang dalam waktu singkat menjadi pengganggu dengan merusak tanaman budidaya, karena hilang faktor pengendalinya secara alami.

Pada kondisi keseimbangan, suatu serangga sebagai salah satu komponen dalam ekosistem populasinya selalu dikendalikan oleh berbagai faktor lingkungan sehingga tidak mudah terjadi  peledakan populasi. Pada ekosistem alami, secara bersamaan faktor-faktor sebagai komponen lingkungan punya peranan dalam melakukan pengendalian secara alami terhadap suatu serangga. Musuh alami yang umum adalah predator, parasitoid, dan patogen punya peluang besar untuk berkembang

Program pengendalian suatu hama, umumnya hanya dilakukan penekanan terhadap populasi serangga hama saja, belum berdasarkan konsep sistem kehidupan. Pendekatan terhadap sistem kehidupan dapat membantu mengembangkan kerangka pemikiran pengendalian hama yang konsepsional. Rekayasa ekologi dengan meningkatkan keragaman genetik tanaman di sekitar lahan pertanian sangat perlu dikembangkan. Berbagai tanaman dapat menyediakan makanan maupun sebagai reservoir tempat berlindung bagi serangga netral dan predator.   Keanekaragaman tanaman yang tinggi diharapkan meningkatkan keanegaragaman serangga yang menguntungkan, sehingga dapat menjaga sistem keseimbangan secara alami.

 

 Pengendalian Hama

Populasi serangga hama ditekan dengan menggunakan insektisida oleh manusia sudah sejak lama. Seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak insektisida yang digunakan di lahan pertanian baik jenis maupun dosisnya, namun demikian kerusakan tanaman akibat serangan hama tidak kunjung berhenti.  Banyak jenis insektisida yang beredar di lapangan menyebabkan semakin banyak pengaruh samping penggunaan insektisida, seperti:

  • Resistensi hama terhadap insektisida.
  • Resurgensi hama, dan
  • Pencemaran lingkungan.

Resistensi hama terhadap insektisida tertentu merupakan masalah yang umum terjadi di lapangan. Resistensi juga menyebabkan terjadinya resurgensi, sehingga hama dapat berkembang dengan baik dan populasinya dapat berlipat (pest outbreaks). Resistensi merupakan salah satu fenomena evolusi. Serangga hama mengadakan adaptasi agar dapat terus bertahan hidup di lingkungannya walaupun ada tekanan, termasuk penggunaan insektisida. Resistensi serangga hama telah terjadi, terhadap hapir semua jenis insektisida.  Berdasarkan hal tersebut di atas, perlu dikembangkan konsep pengendalian hama yang berlandaskan prinsip-prinsip ekologi misalnya pengendalian hama terpadu (PHT).

 

 PENGENDALIAN HAMA TERPADU

Marilah kita bersam-sama mengingat kembali konsep pengendalian hama terpadu (PHT), agar budidaya tanaman pertanian dapat diupayakan secara maksimal dengan tetap menjaga keseimbangan lingkungan. PHT adalah suatu teknik pengendalian hama dengan manipulasi agroekosistem secara menyeluruh dengan menggunakan berbagai macam taktik pengendalian yang sesuai dan dilakukan dengan bijaksana secara terpadu sehingga populasi serangga hama dapat ditekan sampai tidak merugikan secara ekonomi.  PHT tidak mengandalkan kepada satu cara saja tetapi mengkombinasikan berbagai cara.  Pengendalian cara ini diharapkan seminal mungkin mengganggu musuh alami. Penggunaan insektisida dadalam program PHT harus secara selektif.

Sebagai contoh teknologi pengendalian wereng coklat dapat beraneka ragam, dapat disesuaikan dengan komponen pengendali yang ada mulai dari bercocok tanam, pergiliran varietas, manupulasi musuh alami, dan pemilihan insektisida.

 

Perbaikan cara bercocok tanam,

Beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya adalah:

  1. Membersihkan lingkungan dari sisa-sisa tanaman musim sebelumnya yang menjadi sumber  penyakit/hama.
  2. Tanam dilakukan tepat waktu, dikombinasikan dengan peramalan datangnya hama, atau monitoring hama dengan lampu perangkap.
  3. Tanam secara serempak, sangat berguna untuk mengurangi kelimpahan hama.  Dalam satu hamparan tidak ada tanaman yang mendahului karena biasanya menjadi sumber penularan hama .
  4. Tanam dalam barisan yang teratur, untuk memperlancar gerakan angin dan cahaya matahari masuk dalam pertanaman.  Sehingga dapat meniadakan iklim mikro yang cocok untuk perkembangan serangga hama.
  5. Menanam berbagai tanaman penghasil nektar di sekitar sawah, sebagai makanan bagi serangga netral maupun predator.

 

Pergiliran varietas,

 

Penggunaan varietas tahan merupakan cara pengendalian yang paling murah dan mudah diterapkan. Penggunaan varietas tahan umumnya kompatibel dengan cara pengendalian yang lain. Penggunaan varietas yang sama dan tidak diketahui tingkat ketahanannya terhadap suatu OPT secara terus menerus, dapat mendorong terjadinya perubahan sifat biologi OPT setempat sehingga dengan cepat dapat meningkatkan kerentanan tanaman itu sendiri. Sutu varietas yang ditanam tanpa henti 4 - 5 musim dapat patah ketahanannya. Penanaman yang multi varietas dapat menghambat proses perkembangan biotipe baru wereng coklat. Biotipe wereng yang berkembang sebagai hasil dari tekanan genetik di lapangan dan merupakan suatu proses yang mendekati seleksi alam.

Pergiliran varietas antar musim  perlu dilakukan hal ini berhubungan dengan sifat dari wereng coklat yang mudah beradaptasi dengan varietas yang baru dilepas. Varietas tahan yang terus menerus ditanam secara luas, makin lama akan makin mudah terserang wereng coklat dengan berusaha membentuk biotipe yang baru. Biotipe yang baru  umumnya lebih sulit dikendalikan.

 

Beberapa varietas unggul baru yang adaptif di Maluku Utara adalah:

1. Inpari 36: Tahan tungro

2. Inpari 37: Tahan tungro

3. Inpari 33: Tahan wereng

 

 Penggunaan insektisida.

Insektisida yang dianjurkan untuk pengendalian wereng pada tanaman padi menurut Inpres No. 3. 1986, adalah senyawa pengatur pertumbuhan  buprofezin, BPMC, MIPC, dan karbofuran. Dari penelitian terakhir sebaiknya menggunakan insektisida fipronil yang berdaya tangkal rangkap untuk mengendalikan wereng coklat dan penggerek, sedangkan imidakropid sangat baik untuk mengendalikan wereng hijau dan wereng coklat. Insektisida-insektisida ini belum dilaporkan menimbulkan efek resurgensi pada hama wereng. Pada saat ada serangan wereng coklat tidak diperbolehkan menggunakan insektisida yang dilarang.

Untuk mengendalikan wereng secara efektif diperlukan adanya pengamatan atau peramalan perkembangan populasi wereng coklat setelah wereng imigran datang di pertanaman dan berkembang menurunkan generasinya. Di Indonesia  amabang ekonomi wereng coklat terbaru berdasarkan kajian analisis ekonomi harus didasarkan pada 3 fase pertumbuhan tanaman padi. Aplikasi insektisida yang direkomendasikan dilakukan jika wereng coklat 3-5 ekor/rumpun pada padi umur <20 hari setelah tanam (HST),  atau 5-9 ekor/rumpun pada padi umur 20-40 HST, atau jumlah wereng 10-20 ekor/rumpun pada padi umur >40HST.

Teknologi budidaya seperti tersebut di atas bersifat praktis, murah, dan mudah diterapkan. Pertanaman yang dirancang dengan teknik budidaya berdasar pada konsep ekologi mempunyai peluang keberhasilan yang besar dalam mengendalikan perkembangan hama.  Populasi hama yang berkembang sedikit berdampak pada penggunakan insektisida berkurang. Untuk mengetahui jenis-jenis pestisida, bisa klik disini. (sumber:BB Padi)