JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

MODERNISASI PERTANIAN TANPA DISKRIMINASI GENDER

 

Manado - Gender, dalam beberapa sumber didefinisikan sebagai seperangkat peran, perilaku, kegiatan, dan atribut yang dianggap layak bagi laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial dalam suatu masyarakat. Dalam dunia pertanian, sejarah gender dilakukan dalam pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin, jika laki-laki bertugas berburu dan meramu sedangkan perempuan berkewajiban mengumpulkan, memproses, dan memasak. Laki-laki identik dengan hard work dan perempuan dengan sotf work sehingga domain utama perempuan berada disekitar rumah (domestic). Tujuannya tak lain adalah karena kodrat perempuan yang harus melahirkan anak sehingga alat reproduksinya harus di jaga.

Dalam perkembangan teknologi pertanian, beberapa kegiatan dan peralatan yang mempermudah usahatani juga dikonstruksi responsif gender mulai dari proses penanaman, pembuatan ani-ani untuk panen, dan lesung untuk penumbuk gabah menjadi beras. Seiring dengan program Modernisasi yang digaungkan Kementerian Pertanian untuk meningkatkan akses SDM terhadap mekanisasi pertanian, Biro Perencanaan menggelar FGD Pengarusutamaan  gender (PUG) selama 3 hari, 26-28 Juli 2017 di Manado. Narasumber yang hadir berasal dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Direktur Alsintan Kementan, Asosiasi Pusat Studi Wanita dan Gender Indonesia (APSWGI), BB Mektan, dan Pemda Minahasa Selatan. Kegiatan tersebut juga melibatkan peneliti dari perguruan tinggi, Pemerintah daerah, dan tak terkecuali BPTP Maluku Utara.

Arah kebijakan PUG di Kementerian Pertanian adalah menuju Modernisasi pertanian tanpa diskriminasi gender. Setiap program dan kegiatan pertanian diharapkan terbuka dan dapat diakses oleh laki-laki maupun perempuan. Saat ini, berdasarkan hasil penillaian terakhir tentang PUG, predikat Kementan adalah “Mentor”, sebuah predikat tertinggi bagi Kementerian/Lembaga yang telah menerapkan program yang ramah gender. Kedepan, upaya yang dilakukan adalah mempertahankan dan meningkatkan usaha-usaha agar seluruh kegiatan di lingkungan pertanian lebih responsif gender.

Beberapa aksi tindak lanjut kedepan yang berhasil dirumuskan adalah melakukan reviu terhadap Pedum pengelolaan Alsintan agar perempuan lebih dilibatkan dalam aspek manajemen unit pengelola jasa alsintan (UPJA), pelatihan mekanisasi juga melibatkan perempuan, mendorong inovasi bisnis baru pembibitan sistem dapog sebagai konsekuensi tergesernya regu tanam wanita, evaluasi manfaat gender menyeluruh terhadap bantuan alsintan dan rekayasa alsintan yang lebih ramah gender.