JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

 

Ketahanan bawang merah lokal Maluku Utara terhadap penyakit moler

 

Sofifi - Sebagai salah satu komoditas unggulan di Indonesia, bawang merah juga dibudidayakan  di Provinsi Maluku Utara. Selain bawang merah varietas nasional seperti Super Philip, Thailand dan Bima Brebes, masyarakat Maluku Utara juga membudidayakan bawang merah asli Pulau Tidore. Bawang merah ini berasal dari daerah Topo, oleh sebab itu sering dikenal dengan nama Bawang Merah Topo menurut bahasa lokal. Di tempat aslinya, bawang merah Topo biasa dibudidayakan di ketinggian 300 – 750 mdpl pada lereng hutan atau kebun dengan kemiringan lebih dari 35 derajat secara tumpang sari dengan tanaman pala atau cengkeh. Masyarakat setempat beranggapan bawang Topo memiliki aroma dan rasa yang khas yang hanya akan keluar jika ditanam di daerah ketinggian dan bukan di dataran rendah.   Bawang Topo sendiri telah terdaftar di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian dengan Tanda Daftar Varietas Tanaman kategori Varietas Lokal dengan Nomor : 232/PLV/2016 yang ditetapkan pada tanggal 27 Desember 2016.

Bawang merah Topo diharapkan dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi bawang merah di wilayah Provinsi Maluku Utara. Selain karena budidaya yang masih tradisional, adanya gangguan penyakit menyebabkan produksi bawang merah Topo rendah sehingga belum mampu memenuhi harapan tersebut. Salah satu penyakit yang sering muncul di pertanaman bawang merah adalah penyakit moler. Penyakit moler disebabkan oleh jamur Fusarium sp. kompleks, artinya ada lebih dari satu jenis jamur Fusarium yang menyebabkan moler dengan gejala layu, umbi busuk, dan daun meliuk (twisting). Hasil penelitian menyebutkan bahwa penyakit moler disebabkan oleh Fusarium solani, F. oxysporum, dan F. acutatum.

Reaksi yang muncul akibat infeksi patogen bias berupa reaksi kesesuaian (terjadi infeksi dan tanaman menjadi sakit) dan reaksi ketidaksesuaian (tanaman tahan atau toleran). Ketahanan tanaman terhadap patogen bisa melalui beberapa mekanisme salah satunya adanya sifat – sifat struktural pada tanaman yang berfungsi sebagai penghalang fisik yang akan menghambat infeksi patogen. Hasil penelitian di rumah kaca menunjukkan bahwa bawang merah Topo dikatakan sebagai kultivar yang rentan terhadap infeksi Fusarium spp. meski di lingkungan tumbuh asalnya belum diketahui reaksi ketahanannya. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan tanaman dapat berubah bergantung pada pengaruh berbagai faktor diantaranya patogen yang virulen, pertumbuhan tanaman dan kondisi lingkungan. Sebagai bentuk respon ketahanan bawang merah Topo terhadap infeksi Fusarium spp. dapat terlihat dari adanya lignin pada bagian umbi bawang yang sakit. Hasil penelitian awal ini sekiranya dapat menjadi dasar untuk mengetahui tanggapan bawang merah Topo terhadap penyakit moler jika bawang merah Topo ditanam di kondisi aslinya.