JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Ubijalar (Ipomoea batatas (L.) Lam.) adalah tanaman herba, tanaman setahun, termasuk dalam keluarga Convolvulaceae. Tumbuh dan menjalar cepat secara horizontal memenuhi tempat tumbuhnya. Meski secara umum batangnya menjalar, namun banyak variasia tipe batangnya, mulai dari sangat tegak, agak tegak sampai menjalar. Di Indonesia, ubijalar diberi nama sesuai dengan daerahnya. Masyarakat Maluku Utara menyebutnya dengan nama batata atau batatas dan dijadikan sebagai salah satu makanan pokok sehari-hari.

Indonesia sebagai salah satu center of origin ubi jalar mempunyai keragaman plasma nutfah ubi jalar yang  tinggi. Hampir setiap daerah memiliki varietas atau klon ubi jalar lokal termasuk Maluku Utara. Penamaan varietas/klon didasarkan pada warna umbi sehingga dikenal batata tinta (warna umbi ungu), batata putih (warna umbi putih) dan lain-lain yang memiliki keragaman di tiap daerah. Hal tersebut perlu dilakukan kegiatan budidaya yang benar untuk melestarikan ketersediaannya secara hidup tanpa terjadi perubahan komposisi genetik. Tahapan pelaksanaan kegiatan pelestarian koleksi plasma nutfah adalah sebagai berikut:

1. Pembibitan

Tanaman ubi jalar dapat diperbanyak secara generatif dengan biji dan secara vegetatif berupa stek batang atau stek pucuk.

a. Persyaratan Bibit

Teknik perbanyakan tanaman ubi jalar yang sering dipraktekan adalah dengan stek batang atau stek pucuk. Bahan tanaman (bibit) berupa stek pucuk atau stek batang harus memenuhi syarat sebagai berikut:

  • Bahan tanaman sudah berumur 2 bulan atau lebih.
  • Pertumbuhan tanaman yang akan diambil steknya dalam keadaan sehat, normal, tidak terlalu subur.
  • Ukuran panjang stek batang atau stek pucuk antara 20-25 cm, ruas-ruasnya rapat dan buku-bukunya tidak berakar.
  • Mengalami masa penyimpanan di tempat yang teduh selama 1-7 hari.
  • Bahan tanaman (stek) dapat berasal dari tanaman produksi dan dari tunas-tunas ubi yang secara khusus disemai atau melalui proses penunasan.
  • Perbanyakan tanaman dengan stek batang atau stek pucuk secara terus-menerus mempunyai kecenderungan penurunan hasil pada generasi-generasi berikutnya. Oleh karena itu, setelah 3-5 generasi perbanyakan harus diperbaharui dengan cara menanam atau menunaskan umbi untuk bahan perbanyakan.

b.Penyiapan Bibit

Tata cara penyiapan bahan tanaman (bibit) ubi jalar dari tanaman (terutama untk produksi) adalah sebagai berikut:

  • Dipilih tanaman ubi jalar yang sudah berumur 2 bulan atau lebih, keadaan pertumbuhannya sehat dan normal.
  • Batang tanaman dipotong untuk dijadikan stek batang atau stek pucuk sepanjang 20-25 cm dengan menggunakan pisau yang tajam, dan dilakukan pada pagi hari.
  • Stek dikumpulkan pada suatu tempat, kemudian dibuang sebagian daun-daunnya guna mengurangi penguapan yang berlebihan.
  • Bibit diikat rata-rata 100 stek/ikatan, lalu simpan di tempat yang teduh selama 1-7 hari dengan tidak bertumpuk.

2. Pengolahan Media Tanam

Hampir setiap jenis tanah pertanian cocok untuk membudidayakan ubi jalar. Jenis tanah yang paling baik adalah pasir berlempung, gembur, banyak mengandung bahan organik, aerasi serta drainasenya baik dengan derajat keasaman tanah adalah pH=5,5-7,5.

a. Persiapan

Penyiapan lahan bagi ubi jalar sebaiknya dilakukan pada saat tanah tidak terlalu basah atau tidak terlalu kering agar strukturnya tidak rusak, lengket, atau keras. Penyiapan lahan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  • Tanah diolah terlebih dahulu hingga gembur, kemudian dibiarkan selama ±1 minggu.
  • Tahap berikutnya, tanah dibentuk bedengan-bedengan, atau tanah langsung diolah bersamaaan dengan pembuatan bedengan-bedengan.

b. Pembentukan Bedengan

1. Hal yang harus diperhatikan :

  • Jika tanah yang akan ditanami ubi jalar adalah tanah sawah maka jerami dibabat, lalu dibuat tumpukan selebar 60-100 cm.
  • Kalau tanah yang dipergunakan adalah tanah tegalan maka bedengan dibuat dengan jarak 1 meter.
  • Apabila penanaman dilakukan pada tanah miring, maka pada musim hujan bedengan sebaiknya dibuat membujur sesuai dengan miringnya tanah.
  • Tinggi bedengan tidak melebihi 40 cm. Bedengan yang terlalu tinggi cenderung menyebabkan terbentuknya ubi berukuran panjang dan dalam sehinggga menyulitkan pada saat panen. Sebaliknya, bedengan yang terlalu dangkal dapat menyebabkan terganggunya pertumbuhan atau perkembangan ubi, dan memudahkan serangan hama boleng atau lanas.

2. Ukuran bedengan :

  • Pada tanah yang ringan (pasir mengandung liat) ukuran bedengan adalah lebar bawah ± 60 cm, tinggi 30-40 cm, dan jarak antar bedengan 70-100 cm.
  • Pada tanah pasir ukuran bedengan adalah lebar bawah ±40 cm, tinggi 25-30 cm, dan jarak antar bedengan 70-100 cm.
  • Arah bedengan sebaiknya memanjang utara-selatan, dan ukuran panjang bedengan disesuaikan dengan keadaan lahan.

c. Tahapan penyiapan lahan untuk penanaman ubi jalar adalah :

1. Penyiapan Lahan Tegalan.

 

  • Lahan dibersihkan dari rumput-rumput liar (gulma).
  • Tanah diolahan tanah menggunakan cangkul atau bajak hingga gembur, dan  rumput-rumput liarnya sambil dibenamkan.
  • Tanah dibiarkan kering selama minimal 1 minggu.
  • Bedengan-bedengan dibuat dengan ukuran lebar bawah 60 cm, tinggi 30-40 cm, jarak antar bedengan 70-100 cm, dan panjang bedengan disesuaikan dengan keadaan lahan.
  • Bedengan dirapihkan dan saluran air diantara bedengan sambil diperbaiki.

 

2. Penyiapan Lahan Sawah Bekas Tanaman Padi

- Bila jerami tidak digunakan sebagai tumpukan bedengan :

 

  • Jerami dibabat sebatas permukaan tanah
  • Jerami ditumpuk secara teratur menjadi tumpukan kecil memanjang berjarak 1 meter antar tumpukan.
  • Tanah diolah di luar bidang tumpukan jerami dengan cangkul atau bajak, kemudian tanahnya ditimbunkan pada tumpukan jerami sambil dibentuk bedengan-bedengan berukuran lebar bawah ± 60 cm, tinggi 35 cm, dan jarak antar bedengan 70-100 cm, panjang disesuaikan dengan keadaan lahan.
  • Bedengan dirapihkan sambil memperbaiki saluran air antar bedengan. Pembuatan bedengan di atas tumpukan jerami atau sisa-sisa tanaman dapat menambah bahan organik tanah yang berpengaruh baik terhadap struktur dan kesuburan tanah sehingga ubi dapat berkembang dengan baik dan permukaan kulit ubi rata. Kelemahan penggunaan jerami adalah pertumbuhan tanaman ubi jalar pada bulan pertama sedikit menguning, namun segera sembuh dan tumbuh normal pada bulan berikutnya.

 

- Bila jerami tidak digunakan sebagai tumpukan bedengan :

  1. Jerami dibabat sebatas permukaan tanah, disingkirkan ke tempat lain untuk dijadikan bahan kompos.
  2. Tanah diolah dengan cangkul atau bajak hingga gembur, dibiarkan kering selama minimal satu minggu.
  3. Bedengan-gulul dibuat dengn ukuran lebar bawah ±60 cm, tinggi 35 cm dan jarak antar bedengan 80-100 cm.
  4. Bedengan dirapihkan sambil memperbaiki saluran air antar bedengan.

Apabila diberikan pupuk hayati, maka pemberiannya diberikan saat pratanam (3 hari sebelum tanam), pada permukaan lahan dengan cara di semprot/ disiramkan secara merata di tanah di sekitar perakaran, dosis yang dibutuhkan adalah 2 liter per hektar.

(Sumber : Minantyorini. 2015. Regenerasi Tanaman Ubijalar dalam Modul Inventarisasi dan Karakterisasi SDG. BB Biogen. Bogor.