JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

1. Penanaman

Sistem tanam ubi jalar dapat dilakukan secara tunggal (monokultur) dan tumpang sari dengan kacang tanah. Cara Penanaman sebagai berikut:

  • Penanaman ubi jalar di lahan kering biasanya dilakukan pada awal musim hujan, atau awal musim kemarau bila keadaan cuaca normal.
  • Bibit yang telah disiapkan, dibenamkan kira-kira 2/3 bagian, ditimbun dengan tanah kemudian disirami air.
  • Bibit sebaiknya ditanam mendatar, dan semua pucuk diarahkan ke satu jurusan. Dalam satu alur ditanam satu batang, bagian batang yang ada daunnya tersembul di atas bedengan.
  • Pada tiap bedengan ditanam 2 deretan dengan jarak kira-kira 30 cm. Untuk areal seluas 1 ha dibutuhkan bibit stek kurang lebih 36.000 batang.
  • Di lahan sawah, waktu tanam yang paling tepat adalah segera setelah padi rendengan atau padi gadu, yakni pada awal musim kemarau

2. Pemeliharaan

a. Penjarangan dan Penyulaman

  • Selama 3 (tiga) minggu setelah ditanam, penanaman ubi jalar harus harus diamati kontinu, terutama bibit yang mati atau tumbuh secara abnormal.
  • Bibit yang mati harus segera disulam. Cara menyulam adalah dengan mencabut bibit yang mati, kemudian diganti dengan bibit yang baru, dengan menanam sepertiga bagian pangkal stek ditimbun tanah.
  • Penyulaman sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari, pada saat sinar matahari tidak terlalu terik dan suhu udara tidak terlalu panas.
  • Bibit (stek) untuk penyulaman sebelumnya dipersiapkan atau ditanam ditempat yang teduh.

b. Penyiangan dan Pembumbunan

Pada sistem tanam tanpa mulsa jerami, lahan penanaman ubi jalar biasanya mudah ditumbuhi rumput liar (gulma). Gulma merupakan pesaing tanaman ubi jalar, terutama dalam pemenuhan kebutuhan akan air, unsur hara, dan sinar matahari. Oleh karena itu, gulma harus segera disiangi.

Bersama-sama kegiatan penyiangan dilakukan pembumbunan, yaitu menggemburkan tanah guludan, kemudian ditimbunkan pada guludan tersebut. Pembubunan tanah biasanya dilakukan pada umur 1 bulan setelah tanam, kemudian diulang saat tanaman berumur 2 bulan.

Tata cara penyiangan dan pembumbunan meliputi tahap-tahap sebagai berikut:

  • Rumput liar (gulma) dibersihkan dengan kored atau cangkul secara hati-hati agar tidak merusak akar tanaman ubi jalar.
  • Tanah disekitar guludan digemburkan   dengan cara memotong lereng   guludan, kemudian tanahnya diturunkan ke dalam saluran antar guludan.
  • Tanah ditimbunkan kembali ke guludan semula, kemudian diairi hingga tanah cukup basah.

c. Pemupukan

  • Dosis pupuk yang tepat harus berdasarkan hasil analisis tanah atau tanaman di daerah setempat.
  • Dosis pupuk yang dianjurkan secara umum adalah 100-200 kg urea/ha + 50 kg TSP/ha + 100 kg KCl/ha.
  • Pemupukan dapat dilakukan dengan sistem larikan (alur) dan sistem tugal. Pemupukan dengan sistem larikan mula-mula dibuat larikan (alur) kecil di sepanjang guludan sejauh 7-10 cm dari batang tanaman, sedalam 5-7 cm, kemudian pupuk disebarkan secara merata ke dalam larikan sambil ditimbun dengan tanah.
  • Apabila akan diberikan pupuk hayati, maka sebaiknya diberikan pada saat pemeliharaan pada usia 3 minggu, 6 minggu dan 9 minggu setelah tanam. Pemberian masing-masing 2 liter/hektar, disiramkan/disemprotkan merata di tanah disekitar perakaran.
  • Pemberian pupuk hayati jangan bersamaan atau di campur dengan bahan kimia, diberi tenggang waktu selama 3 atau 5 hari Sebelum atau sesudah aplikasi pupuk kimia atau pestisida.

d. Pengairan dan Penyiraman

  • Meskipun tanaman ubi jalar tahan terhadap kekeringan, fase awal pertumbuhan memerlukan ketersediaan air tanah yang memadai. Seusai tanam, tanah atau guludan tempat pertanaman ubi jalar harus diairi, selama 15-30 menit hingga tanah cukup basah, kemudian airnya dialirkan keseluruh pembuangan.
  • Pengairan berikutnya masih diperlukan secara kontinu hingga tanaman ubi jalar berumur 1-2 bulan.
  • Pada periode pembentukan dan perkembangan ubi, yaitu umur 2-3 minggu sebelum panen, pengairan dikurangi atau dihentikan.
  • Waktu pengairan yang paling baik adalah pada pagi atau sore hari. Di daerah yang sumber airnya memadai, pengairan dapat dilakukan kontinu seminggu sekali.
  • Yang penting diperhatikan dalam kegiatan pengairan adalah menghindari agar tanah tidak terlalu becek (air menggenang).

3. Panen

Tanaman ubi jalar dapat dipanen bila ubi-ubinya sudah tua (matang fisiologis). Ciri fisik ubi jalar matang, antara lain: bila kandungan tepungnya sudah maksimum, ditandai dengan kadar serat yang rendah dan bila direbus (dikukus) rasanya enak serta tidak berair. Penentuan waktu panen ubi jalar didasarkan atas umur tanaman. Jenis atau varietas ubi jalar lokal berumur pendek (genjah) dipanen pada umur 3-3,5 bulan, sedangkan varietas berumur panjang (dalam) sewaktu berumur 4,5-5 bulan. Panen ubi jalar yang ideal dimulai pada umur 3 bulan, dengan penundaan paling lambat sampai umur 4 bulan. Panen pada umur lebih dari 4 bulan, selain resiko serangan hama boleng cukup tinggi, juga tidak akan memberikan kenaikan hasil ubi.

a. Cara Panen

Tata cara panen ubi jalar melalui tahapan sebagai berikut:

  • Sudah ditentukan pertanaman ubi jalar yang telah siap dipanen.
  • Batang ubi jalar diotong (dipangkas) dengan menggunakan parang atau sabit, kemudian batang-batangnya disingkirkan ke luar petakan sambil dikumpulkan.
  • Guludan digali dengan cangkul hingga terkuak ubi-ubinya.
  • Ubi jalar dimbil dan kumpulkan di suatu tempat pengumpulan hasil.
  • Ubi dibersihkan dari tanah atau kotoran dan akar yang masih menempel.
  • Ubi disortasi dan diseleksi dan berdasarkan ukuran besar dan kecil ubi secara terpisah dan warna kulit ubi yang seragam. Pisahkan ubi utuh dari ubi terluka ataupun terserang oleh hama atau penyakit.
  • Dimasukkan ke dalam wadah atau karung goni, lalu angkut ke tempat penampungan (pengumpulan) hasil.

b. Prakiraan Produksi

Tanaman ubi jalar yang tumbuhnya baik dan tidak mendapat serangan hama penyakit yang berarti (berat) dapat menghasilkan lebih dari 25 ton ubi basah per hektar. Beberapa potensi produksil ubi jalar lokal Maluku Utara diantaranya : Batatas lokal Tobelo : ± 30 ton/ha, Batatas tinta Kao Barat 15-20 ton/ha, dan Batats lokal Malifut ± 30 ton/ha (BPTP Malut, 2015).

4. Pascapanen

a. Pengumpulan

Hasil panen dikumpulkan di lokasi yang cukup strategis, aman dan mudah dijangkau oleh angkutan.

b. Penyortiran dan Penggolongan

Pemilihan atau penyortiran ubi jalar sebenarnya dapat dilakukan pada saat pencabutan berlangsung. Akan tetapi penyortiran ubi jalar dapat dilakukan setelah semua pohon dicabut dan ditampung dalam suatu tempat. Penyortiran dilakukan untuk memilih umbi yang berwarna bersih terlihat dari kulit umbi yang segar serta yang cacat terutama terlihat dari ukuran besarnya umbi serta bercak hitam/garisgaris pada daging umbi.

c. Penyimpanan

Penanganan pascapanen ubi jalar biasanya ditujukan untuk mempertahankan daya simpan. Penyimpanan ubi yang paling baik dilakukan dalam pasir atau abu. Tata cara penyimpanan ubi jalar dalam pasir atau abu adalah sebagai berikut:

  • Ubi yang baru dipanen Angin-anginkan di tempat yang berlantai kering selama 2-3 hari.
  • Disiapkan tempat penyimpanan berupa ruangan khusus atau gudang yang kering, sejuk, dan peredaran udaranya baik.
  • Tumpukkan ubi di lantai gudang, kemudian timbun dengan pasir kering atau abu setebal 20-30 cm hingga semua permukaan ubi tertutup.

Cara penyimpanan ini dapat mempertahankan daya simpan ubi sampai 5 bulan. Ubi jalar yang mengalami proses penyimpanan dengan baik biasanya akan menghasilkan rasa ubi yang manis dan enak bila dibandingkan dengan ubi yang baru dipanen.

Hal yang penting dilakukan dalam penyimpanan ubi jalar adalah:

  • melakukan pemilihan ubi yang baik, tidak ada yang rusak atau terluka
    • tempat (ruang) penyimpanan bersuhu rendah antara 27-30oC (suhu kamar) dengan kelembapan udara antara 85-90 %.

 

Sumber :

Minantyorini. 2015. Regenerasi Tanaman Ubijalar dalam Modul Inventarisasi dan Karakterisasi SDG. BB Biogen. Bogor.

BPTP Malut. 2015. Laporan Sementara Pengelolaan SDG Malut. BPTP Malut. (tidak dipublikasi).