JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

 

 

Musim tanam padi di periode April September ini sudah mulai tiba. Memasuki musim kemarau (MK) tahun ini, para petani mulai sibuk mempersiapkan lahan untuk segera mengolah sawah dan menanam padi. Petani selalu bersemangat dengan penuh harapan untuk memperoleh hasil panen yang melimpah. Keberhasilan dalam usaha pertanian sangat menentukan kualitas hidup masayarakat petani. Berdasarkan prediksi Kalender Tanam (KATAM) versi 2.6 untuk Maluku Utara, potensi hambatan budidaya padi masih didominasi oleh serangan OPT. Berkembangnya OPT tidak jarang menyebabkan tanaman yang dibudidayakan mengalami puso atau gagal panen. Berbekal dari pengalamam dimusim-musim sebelumnya, diharapkan para petani dapat belajar mengingat irama atau gejolak alam yang sering muncul di lahan pertaniannya.  Oleh karena itu, perlu diwaspadai perkembangan OPT utama pada di musim kemarau ini, apalagi sumber OPT dari musim sebelumnya berkembang dengan intensitas yang tinggi, hal ini diduga karena terjadi anomali iklim yang ditunjukan dengan musim kemarau basah.

Perubahan irama iklim yang terjadi semakin sulit diramalkan, kondisi semacam ini secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada perubahan perilaku organisme yang berkembang di pertanaman padi. Ketidaknormalan iklim ini berakibat pula pada meningkatnya gangguan oleh berbagai organisme pada tanaman padi. Kondisi musim kemarau dengan curah hujan yang masih tinggi membuat peluang besar terhadap berkembangnya organisme pengganggu tumbuhan. Hama wereng batang coklat, penggerek batang padi kuning, dan tikus masih menjadi hama utama, karena serangannya sering menyebabkan tanaman padi menjadi puso. Pada musim kemarau 2018 ini menurut pengakuan petani di beberapa wilayah, hama wereng coklat dan wereng hijau sebagai vektor tungro berkembang pesat di beberapa daerah sentra produksi padi mengakibatkan produksi padi yang diperoleh hanya berkisar 1,5-2 ton/ha. Hal ini perlu diwaspadai oleh petani untuk mempersiapkan pertanaman musim hujan, karena sumber wereng coklat masih banyak terdapat pada ratun-ratun atau singgang yang tumbuh dari tunggul tanaman padi yang dipanen.

 

Di beberapa daerah yang airnya selalu tersedia, petani berusaha meningkatkan indeks pertanaman (IP 300) dengan menanam padi unggul berumur pendek, sehingga setahun dapat menanam padi 3 kali. Produksi padi meningkat dengan pola tanam tersebut, tetapi pola tanam padi-padi-palawija semakin ditinggalkan. Petani tidak menyadari bahwa cara budidaya semacam ini membuat makanan bagi serangga hama padi selalu tersedia sepanjang tahun. Apalagi, bila terjadi pada hamparan sawah dengan pola tanam yang tidak serempak. Kondisi tersebut di atas mendorong peningkatan dengan pesat populasi dan serangan hama karena siklus hidup hama tidak putus.

 

 Agroekosistem dan Keseimbangan Alam

Suatu serangga berkembang menjadi hama bila telah menimbulkan kerusakan yang menyebabkan kerugian. Pergeseran status serangga menjadi hama pada rantai kehidupan sangat terkait oleh kegiatan manusia dalam menerapkan praktik teknologi budidaya dalam suatu agroekosistem.  Oleh karena itu, manusialah yang menempatkan suatu jenis serangga dalam kategori hama, baik secara permanen maupun temporal. Manusia menganggap serangga sebagai hama, karena ada kesamaan kebutuhan antara manusia dan serangga dalam  hal makanan.

Faktor lingkungan amat menentukan keberadaan suatu spesies serangga pada tempat tertentu. Disamping ketersediaan makanan, hubungan suatu spesies organisme dengan organisme lainnya juga sangat menentukan kelangsungan hidupnya.  Prinsip ekologi adalah mengatur hubungan atau interaksi antara serangga dengan serangga atau dengan organisme lain dan juga manusia. Perkembangan teknologi yang pesat mendorong manusia untuk semakin jauh memodifikasi keterkaitan interaksi antar organisme dalam sistem kehidupan dalam lingkup keseimbangan alam pertanian.

Manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dengan sengaja mengubah ekosistem alami menjadi ekosistem baru. Ekosistem baru yang diciptakan khusus untuk kepentingan pertanian disebut sebagai agroekosistem. Dalam agroekosistem komponennya lebih sederhana, biasanya terdiri dari populasi tanaman pertanian seragam (monokultur). Misalnya di sawah hanya terdapat tanaman padi saja. Sehingga keanekaragaman tanaman dalam agroekosistem sangat kecil, dan interaksi antar species organisme yang menghuninya menjadi sangat sederhana atau tidak stabil.  Dengan menyederhanakan ekosistem, tanpa disadari bahwa manusia sebenarnya telah mengubah keseimbangan alam. Keadaan ini dapat menyebabkan spesies serangga yang cocok dengan lingkungannya dapat bertambah dengan cepat. Serangga tersebut mempunyai tingkat reproduksi yang cepat dengan waktu generasi yang pendek. Sehingga serangga tersebut mempunyai potensi berkembang dalam waktu singkat menjadi pengganggu dengan merusak tanaman budidaya, karena hilang faktor pengendalinya secara alami.

Pada kondisi keseimbangan, suatu serangga sebagai salah satu komponen dalam ekosistem populasinya selalu dikendalikan oleh berbagai faktor lingkungan sehingga tidak mudah terjadi  peledakan populasi. Pada ekosistem alami, secara bersamaan faktor-faktor sebagai komponen lingkungan punya peranan dalam melakukan pengendalian secara alami terhadap suatu serangga. Musuh alami yang umum adalah predator, parasitoid, dan patogen punya peluang besar untuk berkembang

Program pengendalian suatu hama, umumnya hanya dilakukan penekanan terhadap populasi serangga hama saja, belum berdasarkan konsep sistem kehidupan. Pendekatan terhadap sistem kehidupan dapat membantu mengembangkan kerangka pemikiran pengendalian hama yang konsepsional. Rekayasa ekologi dengan meningkatkan keragaman genetik tanaman di sekitar lahan pertanian sangat perlu dikembangkan. Berbagai tanaman dapat menyediakan makanan maupun sebagai reservoir tempat berlindung bagi serangga netral dan predator.   Keanekaragaman tanaman yang tinggi diharapkan meningkatkan keanegaragaman serangga yang menguntungkan, sehingga dapat menjaga sistem keseimbangan secara alami.

 

 Pengendalian Hama

Populasi serangga hama ditekan dengan menggunakan insektisida oleh manusia sudah sejak lama. Seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak insektisida yang digunakan di lahan pertanian baik jenis maupun dosisnya, namun demikian kerusakan tanaman akibat serangan hama tidak kunjung berhenti.  Banyak jenis insektisida yang beredar di lapangan menyebabkan semakin banyak pengaruh samping penggunaan insektisida, seperti:

  • Resistensi hama terhadap insektisida.
  • Resurgensi hama, dan
  • Pencemaran lingkungan.

Resistensi hama terhadap insektisida tertentu merupakan masalah yang umum terjadi di lapangan. Resistensi juga menyebabkan terjadinya resurgensi, sehingga hama dapat berkembang dengan baik dan populasinya dapat berlipat (pest outbreaks). Resistensi merupakan salah satu fenomena evolusi. Serangga hama mengadakan adaptasi agar dapat terus bertahan hidup di lingkungannya walaupun ada tekanan, termasuk penggunaan insektisida. Resistensi serangga hama telah terjadi, terhadap hapir semua jenis insektisida.  Berdasarkan hal tersebut di atas, perlu dikembangkan konsep pengendalian hama yang berlandaskan prinsip-prinsip ekologi misalnya pengendalian hama terpadu (PHT).

 

 PENGENDALIAN HAMA TERPADU

Marilah kita bersam-sama mengingat kembali konsep pengendalian hama terpadu (PHT), agar budidaya tanaman pertanian dapat diupayakan secara maksimal dengan tetap menjaga keseimbangan lingkungan. PHT adalah suatu teknik pengendalian hama dengan manipulasi agroekosistem secara menyeluruh dengan menggunakan berbagai macam taktik pengendalian yang sesuai dan dilakukan dengan bijaksana secara terpadu sehingga populasi serangga hama dapat ditekan sampai tidak merugikan secara ekonomi.  PHT tidak mengandalkan kepada satu cara saja tetapi mengkombinasikan berbagai cara.  Pengendalian cara ini diharapkan seminal mungkin mengganggu musuh alami. Penggunaan insektisida dadalam program PHT harus secara selektif.

Sebagai contoh teknologi pengendalian wereng coklat dapat beraneka ragam, dapat disesuaikan dengan komponen pengendali yang ada mulai dari bercocok tanam, pergiliran varietas, manupulasi musuh alami, dan pemilihan insektisida.

 

Perbaikan cara bercocok tanam,

Beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya adalah:

  1. Membersihkan lingkungan dari sisa-sisa tanaman musim sebelumnya yang menjadi sumber  penyakit/hama.
  2. Tanam dilakukan tepat waktu, dikombinasikan dengan peramalan datangnya hama, atau monitoring hama dengan lampu perangkap.
  3. Tanam secara serempak, sangat berguna untuk mengurangi kelimpahan hama.  Dalam satu hamparan tidak ada tanaman yang mendahului karena biasanya menjadi sumber penularan hama .
  4. Tanam dalam barisan yang teratur, untuk memperlancar gerakan angin dan cahaya matahari masuk dalam pertanaman.  Sehingga dapat meniadakan iklim mikro yang cocok untuk perkembangan serangga hama.
  5. Menanam berbagai tanaman penghasil nektar di sekitar sawah, sebagai makanan bagi serangga netral maupun predator.

 

Pergiliran varietas,

 

Penggunaan varietas tahan merupakan cara pengendalian yang paling murah dan mudah diterapkan. Penggunaan varietas tahan umumnya kompatibel dengan cara pengendalian yang lain. Penggunaan varietas yang sama dan tidak diketahui tingkat ketahanannya terhadap suatu OPT secara terus menerus, dapat mendorong terjadinya perubahan sifat biologi OPT setempat sehingga dengan cepat dapat meningkatkan kerentanan tanaman itu sendiri. Sutu varietas yang ditanam tanpa henti 4 - 5 musim dapat patah ketahanannya. Penanaman yang multi varietas dapat menghambat proses perkembangan biotipe baru wereng coklat. Biotipe wereng yang berkembang sebagai hasil dari tekanan genetik di lapangan dan merupakan suatu proses yang mendekati seleksi alam.

Pergiliran varietas antar musim  perlu dilakukan hal ini berhubungan dengan sifat dari wereng coklat yang mudah beradaptasi dengan varietas yang baru dilepas. Varietas tahan yang terus menerus ditanam secara luas, makin lama akan makin mudah terserang wereng coklat dengan berusaha membentuk biotipe yang baru. Biotipe yang baru  umumnya lebih sulit dikendalikan.

 

Beberapa varietas unggul baru yang adaptif di Maluku Utara adalah:

1. Inpari 36: Tahan tungro

2. Inpari 37: Tahan tungro

3. Inpari 33: Tahan wereng

 

 Penggunaan insektisida.

Insektisida yang dianjurkan untuk pengendalian wereng pada tanaman padi menurut Inpres No. 3. 1986, adalah senyawa pengatur pertumbuhan  buprofezin, BPMC, MIPC, dan karbofuran. Dari penelitian terakhir sebaiknya menggunakan insektisida fipronil yang berdaya tangkal rangkap untuk mengendalikan wereng coklat dan penggerek, sedangkan imidakropid sangat baik untuk mengendalikan wereng hijau dan wereng coklat. Insektisida-insektisida ini belum dilaporkan menimbulkan efek resurgensi pada hama wereng. Pada saat ada serangan wereng coklat tidak diperbolehkan menggunakan insektisida yang dilarang.

Untuk mengendalikan wereng secara efektif diperlukan adanya pengamatan atau peramalan perkembangan populasi wereng coklat setelah wereng imigran datang di pertanaman dan berkembang menurunkan generasinya. Di Indonesia  amabang ekonomi wereng coklat terbaru berdasarkan kajian analisis ekonomi harus didasarkan pada 3 fase pertumbuhan tanaman padi. Aplikasi insektisida yang direkomendasikan dilakukan jika wereng coklat 3-5 ekor/rumpun pada padi umur <20 hari setelah tanam (HST),  atau 5-9 ekor/rumpun pada padi umur 20-40 HST, atau jumlah wereng 10-20 ekor/rumpun pada padi umur >40HST.

Teknologi budidaya seperti tersebut di atas bersifat praktis, murah, dan mudah diterapkan. Pertanaman yang dirancang dengan teknik budidaya berdasar pada konsep ekologi mempunyai peluang keberhasilan yang besar dalam mengendalikan perkembangan hama.  Populasi hama yang berkembang sedikit berdampak pada penggunakan insektisida berkurang. Untuk mengetahui jenis-jenis pestisida, bisa klik disini.